Guru saya suatu hari berkata, "Banyak orang yang sholat tapi shalatnya tidak membawa kebaikan bagi dirinya, bahkan makin jauh dari Tuhan, karena dia bohong dalam sholatnya. Berpuluh-puluh kali dia katakan 'Allahu Akbar' dalam sholat tapi dalam keseharian hatinya masih terombang-ambing oleh urusan dunia…"
Kita seringkali baru sekedar berkata di lisan "Allahu Akbar - Allah Maha Besar", padahal seharusnya diiringi dengan kesadaran bahwa Ia lebih Besar kuasanya dibanding semua problematika hidup yang mengelilingi. Diberi ujian anak sakit lantas panik, diberi fenomena konflik dengan rekan sekantor atau famili kemudian jadi pikiran berhari-hari hingga mengganggu konsentrasi sholat, dihadirkan pasangan hidup malah sering cekcok. Ah, benar firman-Nya dalam Al Quran bahwa manusia itu makhluk yang banyak berkeluh kesah, astaghfirullah….
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” ― Pramoedya Ananta Toer
Wednesday, March 12, 2014
Tuesday, March 11, 2014
I Wish I Believe In Life After Death
Siang kemarin saya berbincang dengan seorang perempuan Belanda yang berkunjung ke rumah dalam rangka sebuah program sosial yang bertujuan untuk membantu orang yang baru datang ke Belanda agar bisa berintegrasi dengan lebih baik. Sang ibu yang tampak energik di usianya yang ke-65 tahun, masih naik sepeda kemana-mana dengan dandanan yang trendi tak kalah dengan anak muda dan postur yang atletis berbagi sepenggal ceritanya yang membuat saya tertegun.
Dua tahun yang lalu suaminya yang terkasih meninggal karena kanker tiroid, penyakit yang tiba-tiba datang dan memporak-porandakan badannya dalam waktu 7 minggu saja, "we didn't saw it coming.." katanya lirih, sembari menceritakan betapa ia dan suaminya menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia selama 42 tahun, mempunyai 2 anak dan 2 cucu, dan sudah merencanakan liburan sana-sini, renovasi rumah dan seabreg kegiatan yang akan dilakukan bersama lainnya.
"When you lost someone that have shared 42 years of togetherness in love, you'll feel like there's a big piece of you that is missing. Of course i'm happy now with my children and cute grandchildren, but i am happier when he was around…" tuturnya sendu. "I'm not into religion, therefore i don't really believe in the life after death, i wish i do now so i know i have hope that we'll be together again…"[]
Dua tahun yang lalu suaminya yang terkasih meninggal karena kanker tiroid, penyakit yang tiba-tiba datang dan memporak-porandakan badannya dalam waktu 7 minggu saja, "we didn't saw it coming.." katanya lirih, sembari menceritakan betapa ia dan suaminya menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia selama 42 tahun, mempunyai 2 anak dan 2 cucu, dan sudah merencanakan liburan sana-sini, renovasi rumah dan seabreg kegiatan yang akan dilakukan bersama lainnya.
"When you lost someone that have shared 42 years of togetherness in love, you'll feel like there's a big piece of you that is missing. Of course i'm happy now with my children and cute grandchildren, but i am happier when he was around…" tuturnya sendu. "I'm not into religion, therefore i don't really believe in the life after death, i wish i do now so i know i have hope that we'll be together again…"[]
Sunday, February 2, 2014
Allah Berkehendak Melaksanakan Urusan-Nya
"Dan ketika Allah memperlihatkan mereka kepadamu, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit menurut penglihatan matamu dan kamu diperlihatkan-Nya berjumlah sedikit menurut penglihatan mereka, itu karena Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan. Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan."
(QS Al Anfaal [8]: 44)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan bahwa saat Perang Badar, Allah membuat pandangan kaum mukminin dan kaum kafirin mengira bahwa jumlah pasukan yang akan mereka hadapi adalah sedikit sehingga hal itu membangkitkan optimisme pada masing-masing pihak. Pada kenyataannya pasukan muslim hanya berjumlah 313 orang melawan pasukan kafir sebanyak 1000 orang. Allah pun menurunkan bala bantuannya berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut saat perang berkecamuk. Dan akhirnya peperangan dimenangkan oleh kaum mukminin.
Begitulah, adalah mudah bagi Allah saat Dia " … berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan…" semua akan terjadi, karena tidak ada setitik pun kehidupan yang berada di luar kendali-Nya. Kalau kita meyakini satu prinsip ini dengan sebenar-benarnya, maka tentu tidak ada masa lalu kita yang 'salah jalan' karena semua dalam kehendak-Nya. Suatu hal yang tampaknya kacau, satu episode kehidupan yang kita anggap sangat kelam dan ingin kita hapus dalam lembaran kehidupan kita ternyata masih merupakan bagian dari "urusan yang harus dilaksanakan".
Acceptance is the first key
Tampaknya kita tidak bisa berjalan dengan baik bila kita belum menerima keseluruhan diri, lingkungan, keluarga, masa lalu dan apapun yang telah Dia berikan dalam jenjang waktu sekian tahun kehidupan kita yang telah berlalu. Semuanya merupakan informasi yang penting yang menceritakan siapa diri kita dan bagaimana cara Dia berkomunikasi dengan sangat personal dengan masing-masing hamba-Nya.
Guru saya selalu mengingatkan muridnya agar mempunyai hati yang kuat, "jangan mengeluh!" kata beliau di banyak kesempatan. Memang saat hati belum menerima dengan baik peran dan kondisi yang Sang Maha Kuasa berikan per hari ini, apakah itu kondisi keluarga, rumah tangga, anak, pasangan, pekerjaan, lingkungan rumah dan lain-lain yang melingkupi kehidupan, kita cenderung mengeluh dan akhirnya tidak bisa mengalir dengan berserah diri dan suka cita dalam aliran takdir-Nya.
Akhirnya bagaimanapun kuatnya keinginan kita, Dia berkehendak melaksanakan urusan yang harus dilaksanakan…
(Amsterdam, 2 Februari 2014. 3.42 pm)
(QS Al Anfaal [8]: 44)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan bahwa saat Perang Badar, Allah membuat pandangan kaum mukminin dan kaum kafirin mengira bahwa jumlah pasukan yang akan mereka hadapi adalah sedikit sehingga hal itu membangkitkan optimisme pada masing-masing pihak. Pada kenyataannya pasukan muslim hanya berjumlah 313 orang melawan pasukan kafir sebanyak 1000 orang. Allah pun menurunkan bala bantuannya berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut saat perang berkecamuk. Dan akhirnya peperangan dimenangkan oleh kaum mukminin.
Begitulah, adalah mudah bagi Allah saat Dia " … berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan…" semua akan terjadi, karena tidak ada setitik pun kehidupan yang berada di luar kendali-Nya. Kalau kita meyakini satu prinsip ini dengan sebenar-benarnya, maka tentu tidak ada masa lalu kita yang 'salah jalan' karena semua dalam kehendak-Nya. Suatu hal yang tampaknya kacau, satu episode kehidupan yang kita anggap sangat kelam dan ingin kita hapus dalam lembaran kehidupan kita ternyata masih merupakan bagian dari "urusan yang harus dilaksanakan".
Acceptance is the first key
Tampaknya kita tidak bisa berjalan dengan baik bila kita belum menerima keseluruhan diri, lingkungan, keluarga, masa lalu dan apapun yang telah Dia berikan dalam jenjang waktu sekian tahun kehidupan kita yang telah berlalu. Semuanya merupakan informasi yang penting yang menceritakan siapa diri kita dan bagaimana cara Dia berkomunikasi dengan sangat personal dengan masing-masing hamba-Nya.
Guru saya selalu mengingatkan muridnya agar mempunyai hati yang kuat, "jangan mengeluh!" kata beliau di banyak kesempatan. Memang saat hati belum menerima dengan baik peran dan kondisi yang Sang Maha Kuasa berikan per hari ini, apakah itu kondisi keluarga, rumah tangga, anak, pasangan, pekerjaan, lingkungan rumah dan lain-lain yang melingkupi kehidupan, kita cenderung mengeluh dan akhirnya tidak bisa mengalir dengan berserah diri dan suka cita dalam aliran takdir-Nya.
Akhirnya bagaimanapun kuatnya keinginan kita, Dia berkehendak melaksanakan urusan yang harus dilaksanakan…
(Amsterdam, 2 Februari 2014. 3.42 pm)
Tuesday, January 21, 2014
Diamlah dan Dengarkan Ia Berbicara
You are a book.
You have to write, nothing else.
You have to write what is said, nothing else.
The book should not talk.
If it does, it wastes time.
You have to write!
(Bawa Muhaiyaddeen)
Guru saya berpesan agar kita senantiasa menjadi anak "Sang Waktu", mengikuti setiap torehan pena kehidupan yang Dia tetapkan dengan seksama dan ikhlas, agar pesan-Nya yang tersembunyi di setiap momen kehidupan dapat dimengerti.
Ya, kita akan mengalami pertarungan batin, mempertanyakan kenapa begini-kenapa begitu, berkeluh kesah dan kesulitan untuk menjalani apa yang Dia tetapkan di saat-saat tertentu, dan alih-alih kita berserah diri mencoba menyelaraskan hati dengan kehidupan yang Dia berikan per hari ini, pikiran kita sibuk merekayasa dan mencari jalan keluar dari apa yang kita anggap ketidaknyamanan.
Bukan berarti kita menjadi fatalis dan memilih duduk berpangku tangan membiarkan roda kehidupan menggerus sisa umur kita di dunia. Kita merencanakan hidup dan berusaha memberikan kontribusi yang terbaik selama kita masih bernafas, tapi kita juga harus cukup tahu diri bahwa ada yang Maha Kuasa yang mengatur kehidupan semesta. Kita adalah buku dan Dia yang menuliskan sang pena dalam timbangan ilmu dan keadilan-Nya yang sempurna. Jadi diamlah dan jadilah buku yang baik yang menyediakan halaman demi halamannya untuk ditulis dengan seksama oleh Sang Pemilik Buku.
Diamlah saat menghadapi kegalauan dan ketidakmengertian hidup
Diamlah saat bencana datang menghancurkan hijab-hijab dalam hati kita
Diamlah saat kau merasa bosan dan ingin berbuat yang tidak-tidak
Diamlah dan bersabarlah karena engkau akan dibuat mengerti suatu saat nanti
Dan engkau baru menyadari nanti bahwa tidak ada sesuatu pun yang sia-sia
Dan bahwa desain-Nya adalah yang terbaik
Dan engkau memohon kepada-Nya agar diberi kesempatan kedua menjalani hidup dengan lebih ikhlas
Tapi permohonan nanti akan terlambat
Jadi, diamlah dan sabarlah sekarang juga
Hidupmu hanya sekali di dunia ini
Dia sedang menguji mana hamba-Nya yang betul-betul sabar…
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga,
padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu
dan belum nyata orang-orang yang sabar…" (QS Ali Imran [3]: 142)
(Amsterdam, 21 Januari 2014. 10.59 am)
Wednesday, January 8, 2014
Pengalaman Memeriksa Kehamilan di Negeri Belanda
Di negeri ini pemeriksaan pertama kehamilan dilakukan semua oleh bidan karena sistem rujukan berbasis asuransi yang sudah berjalan lama, sehingga hanya pasien dengan indikasi tertentu yang ditangani oleh dokter spesialis kandungan.
Ada beberapa hal yang membuat saya terkesan dengan pelayanan pemeriksaan kehamilan di sini:
1. Jadwal yang presisi
Pembuatan janji pemeriksaan dilakukan via telepon dan biasanya beberapa hari sebelumnya pengelola klinik menelepon atau mengirim surat sekedar mengingatkan tentang janji yang telah dibuat. Dengan jadwal yang pasti pasien tidak perlu dibuat mengantri dan menunggu lama di ruang tunggu. Waktu itu saya mempunyai janji jam 10 pagi, maka saya akan datang 5 menit sebelumnya dan pemeriksaan berjalan selama sekitar 30 menit. Di lain sisi, apabila pasien mangkir, tidak datang tanpa pemberitahuan pasien akan tetap membayar biaya konsultansi.
2. Ramah dan Informasi yang Detail
Keramahan dan kehangatan langsung terasa begitu pertama kali sang bidan menyapa, senyum yang mengembang dan sapaan yang bersahabat membuat kita 'feel at home'. Diagnosa dilakukan terarah karena ada formulir isian (check list) untuk memastikan tidak ada informasi yang tertinggal.
Setelah itu pemeriksaan USG dilakukan dengan seksama oleh sang bidan, setiap bagian janin diterangkan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sang bidan akan menunjukkan setiap bagian yang sedang dia ukur (misal lingkar kepala, nuchal thickness dll) dan membreitahu apakah kondisi janin dalam batas normal, hal ini tentu membuat kedua orang tua senang dengan informasi menyeluruh yang diberikan, karena tidak ada yang lebih melegakan bagi seorang ibu khususnya ketika mengetahui bahwa janin yang dikandungnya dalam kondisi sehat.
Menjelang pulang, saya dibekali berbagai buku berisi panduan gizi, panduan kehamilan, tanda bahaya kehamilan, persiapan persalinan, dsb dengan jumlah total sekitar 7 buku yang dicetak apik. Kemudian sang bidan mengisi kartu check list untuk menjadwalkan pemeriksaan laboratorium dan membuat janij untuk pemeriksaan kehamilan selanjutnya.
Karena riwayat persalinan saya sebelumnya melalui Bedah Cesar, maka saya dijadwalkan berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan di rumah sakit terdekat yaitu Amsterdam Medisch Centrum. Satu bulan sebelum pertemuan yang telah dijadwalkan dengan dr spesialis ybs saya dikirim satu amplop yang berisi 15 halaman form isian riwayat kesehatan, keluarga dan kehamilan sebelumnya; petunjuk arah ke poliklinik kandungan RS AMC, beserta daftar dokumen yang harus dibawa. Di dalam surat pemberitahuan itu disebutkan bahwa saya harus datang 15 menit lebih awal dari jadwal untuk membuat Patienten Pas , semacam kartu member rumah sakit dengan syarat membawa kartu residence permit dan kartu asuransi. Proses pembuatan patienten pas yang lengkap dicetak dengan foto kita di atasnya berlangsung hanya 5 menit.
Di poliklinik saya kemudian disambut oleh seorang gadis ramah yang memperkenalkan dirinya sebagai co-assistant, semua data saya dimasukkan olehnya ke dalam sistem komputer dan ia melakukan pemeriksaan awal berupa anamnesa, pemeriksaan tekanan darah, melakukan manuver Leopold dan memasang alat Doppler untuk memgetahui suara dan frekuensi jantung bayi. Semua dilakukan di kamar khusus dan terjaga privasinya. Kemudian saya disuruh menunggu sebentar hingga dokter spesialis siap dengan pasien berikutnya.
AMC adalah rumah sakit pendidikan, saya jadi teringat suasana waktu saya jadi koasisten di RSHS 12 tahun yang lalu. Disini tampak hubungan dokter spesialis dengan ko-asisten seperti kolega, sang koasisten respek terhadap seniornya dan sang senior juga menjaga juniornya dengan baik dalam suasana yang harmonis :) Sesekali bahkan sang dokter tidak sungkan untuk bertanya tentang sesuatu (kami sedang mengisi kuesioner penelitian yang saya setuju untuk mengikutinya; yaitu Rotterdam Reproductive Risk Reduction Score Card). Disini saya merasa dilayani di rumah sakit pendidikan dengan baik, kita diberi tahu sejak awalakan keberadaan koasisten dan peranan mereka, juga perihal beberapa form isian yang bisa kita dapatkan apabila kita bersedia mengikuti program penelitian, dengan keuuntungan pemeriksaan yang lebih detail walaupun meluangkan waktu sedikit lama, tidak masalah buat saya selama semuanya dijalankan dengan baik.
(Bersambung ke pemeriksaan selanjutnya...;))
Monday, January 6, 2014
Saat Dibuat Mengerti
Sepanjang pengalaman pribadi saya menghadapi kebingungan hidup, sungguh ketika Yang Maha Ilmu mengungkapkan sedikit saja pengetahuannya agar dimengerti oleh hamba-Nya maka itu membuat penerimaan saya terhadap hal yang terjadi menjadi sangat mudah.
Ketika dibuat mengerti, kita menjadi lebih toleran mensikap perbedaan atau hal yang bertentangan dengan keinginan kita dalam keseharian.
Ketika dibuat mengerti, kita menjadi lebih sabar menunggu saat dikabulkannya doa kita.
Ketika dibuat mengerti, kita menjadi lebih menghayati takdir keseharian kita dan menjalaninya dengan senyuman.
Di dalam Al Quran terdapat sepenggal kisah monumental yang Allah abadikan, tatkala salah satu Nabi Allah, Musa as diajari oleh Khidir as melalui tiga peristiwa yang membuat seorang nabi sekaliber Musa as pun dibuat kebingungan. Adalah saat Khidir as membukakan pengetahuan di balik mengapa beliau melubangi perahu, memenggal kepala anak kecil dan membangun tembok sebuah rumah, maka Musa as mengerti dan dapat menerima semua kejadian itu sebagai bagian dari pembelajaran Ilahiyah.
Dalam hidup kita pun sama, tak terhitung berapa kali kita dibuat bingung dan tak mengerti oleh suatu persoalan atau harus menunggu saat dikabulkannya doa yang kerap kali membuat hati kita menjerit, apakah Tuhan memang ada?
Timbangan keadilan-Nya yang dipahami sepotong-sepotong cenderung membuat kita berontak melalui penggal demi penggal kehidupan. Memang Allah Taála memberikan jurus 'praktis'menghadapi ketidaknyamanan sementara tersebut yang Dia tuangkan dalam firman-Nya dalam Al Quran, yaitu dengan "Sabar dan Shalat".
Sabar menunggu dan menjalani ketetapan-Nya walau masih harus mengelus dada menghadapinya.
Sabar menelan hidangan keseharian-Nya, walau hati masih gaduh dengan keluhan.
Sabar saja dan tunggu, Dia selalu memberikan pertolongan-Nya.
Bandung, 18 Des 2013. 06.15 am
Sunday, December 8, 2013
Siapa Yang Menolong Akan Ditolong
Dalam sebuah perbincangan hangat dan santai saat makan siang guru saya bercerita singkat tentang bagaimana negara-negara yang mengambil andil dalam menegakkan dan memperjuangkan kebenaran di muka bumi akan ditolong Allah, sambil memberi contoh perjuangan Inggris dan Amerika dalam membasmi perbudakan dari muka bumi.
Kemudian cerita beralih ke ayahanda beliau yang seorang dokter. Dari awal beliau praktek tidak pernah menerapkan tarif besar untuk pasien, bagi beliau dokter adalah sebuah pengabdian, pasien pun tidak jarang mengganti jasanya dengan hasil bumi atau ternak mereka yang ada. Namun itu tidak membuat kehidupan mereka sulit, bahkan sebaliknya gudang makanan mereka selalu berlimpah karena pasien yang datang jumlahnya banyak, bayangkan saat membuka pintu jam 4 dini hari pasien sudah antri untuk berebut nomor antrian.
Kebiasaan beliau menjalankan profesinya seperti itu kembali diteruskan saat beliau selesai menamatkan pendidikan sokter spesialis anak dan bertugas di sebuah kota kecil di Jawa Barat. Akibat menerapkan tarif yang jauh lebih murah dibanding koleganya, tidak sedikit teman sejawatnya yang menyerangnya secara pribadi dan bahkan hingga menggunakan ilmu hitam. Tapi semua itu tidak membuat semangat pak dokter yang mulia surut, beliau tetap menjalankan panggilan hatinya dengan ikhlas, dan justru banyak kemudahan yang Allah Ta'ala bukakan sepanjang jalan. Salah satunya ketika sang tetangga yang mempunyai rumah degan tanah yang sangat luas menjual rumahnya dengan harga yang sangat rendah dan hanya ingin dibeli oleh sang dokter dermawan ini.
Guru saya berpesan bahwa kalau kita berniat menolong orang, menolong agama Allah, pasti Dia akan memberikan bimbingan dan pertolongannya dalam hidup. Jangan kuatir. Jadi kita harus lebih mengkhawatirkan hati kita yang niatnya melenceng kemana-mana selain kepada Allah...
(Bandung, 9 Desember 2013. 9.14 am)
Kemudian cerita beralih ke ayahanda beliau yang seorang dokter. Dari awal beliau praktek tidak pernah menerapkan tarif besar untuk pasien, bagi beliau dokter adalah sebuah pengabdian, pasien pun tidak jarang mengganti jasanya dengan hasil bumi atau ternak mereka yang ada. Namun itu tidak membuat kehidupan mereka sulit, bahkan sebaliknya gudang makanan mereka selalu berlimpah karena pasien yang datang jumlahnya banyak, bayangkan saat membuka pintu jam 4 dini hari pasien sudah antri untuk berebut nomor antrian.
Kebiasaan beliau menjalankan profesinya seperti itu kembali diteruskan saat beliau selesai menamatkan pendidikan sokter spesialis anak dan bertugas di sebuah kota kecil di Jawa Barat. Akibat menerapkan tarif yang jauh lebih murah dibanding koleganya, tidak sedikit teman sejawatnya yang menyerangnya secara pribadi dan bahkan hingga menggunakan ilmu hitam. Tapi semua itu tidak membuat semangat pak dokter yang mulia surut, beliau tetap menjalankan panggilan hatinya dengan ikhlas, dan justru banyak kemudahan yang Allah Ta'ala bukakan sepanjang jalan. Salah satunya ketika sang tetangga yang mempunyai rumah degan tanah yang sangat luas menjual rumahnya dengan harga yang sangat rendah dan hanya ingin dibeli oleh sang dokter dermawan ini.
Guru saya berpesan bahwa kalau kita berniat menolong orang, menolong agama Allah, pasti Dia akan memberikan bimbingan dan pertolongannya dalam hidup. Jangan kuatir. Jadi kita harus lebih mengkhawatirkan hati kita yang niatnya melenceng kemana-mana selain kepada Allah...
(Bandung, 9 Desember 2013. 9.14 am)
Subscribe to:
Posts (Atom)