Saturday, July 5, 2014

Indonesia Menang!

Terinspirasi oleh antusiasme para sepakbola-mania mendukung tim dari negaranya masing-masing, apapun latar belakang, kepercayaan, ras dan perbedaan politik yang ada. Semua lebur jadi satu, kompak berharap negaranya yang menang.

Semoga siapapun yang diamanatkan rakyat untuk memimpin bangsa dapat menjalankan mandatnya dengan baik untuk memenangkan rakyat Indonesia melawan kebodohan, ketidakadilan, korupsi, kesewenang-wenangan, kemiskinan dan sekian banyak masalah yang menanti di depan mata.

Semoga KPU, Bawaslu dan lembaga pengawas pemilu lainnya serta pemerintah dapat menjadi wasit yang baik, jujur dan tegas dalam pertandingan antar putra -putra terbaik bangsa saat ini.

Semoga rakyat, para penonton dapat mengikuti 'pertandingan' dengan santun, menduduki tempatnya masing-masing, menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain baik lisan apalagi perbuatan, bisa menerima perbedaan dengan legowo. Bisa bersorak bersama untuk kemenangan bangsa Indonesia.

Ayo menangkan Indonesia!

Thursday, July 3, 2014

Tuhan Tahu Yang Terbaik Untuk Bangsa Ini

Guru saya berpesan, "Apapun opsi kehidupan yang dihadapi, pastikan untuk memilih pilihan yang makin mendekatkan kita kepada Tuhan."
Saya mencoba mempraktikkan kata-kata beliau dalam semua langkah kehidupan, sejak memilih sekolah, pekerjaan hingga memilih jodoh. Apalah lagi menghadapi pemilihan presiden beberapa hari mendatang saya memutuskan untuk memilih calon yang hati saya ringan untuk memilihnya.

Saya merasa apapun itu kalau kita ingat bahwa Tuhan berada di belakangnya membuat jadi lebih ringan dalam menjalani dan mudah untuk menerima, tidak hanya itu kita menjadi lebih santun dan elegan dalam menyikapi perbedaan dan bahkan keburukan orang.

Sangat membantu bagi saya pribadi kalau mengingat bahwa semua makhluk dalam genggaman-Nya.
Bukankah dia bisa begitu dengan ijin-Nya?
Bukankah tiada satu pun kata keluar dari mulut seseorang dan tulisan yang tertoreh tanpa kehendak-Nya?
Bukankah semua orang - baik atau buruk; memukau atau menyebalkan; manusia dengan segala kekurangannya adalah ciptaan-Nya? - dengan demikian apakah ketika kita menghina seseorang kita secara tidak langsung sudah menghina Yang Mencipta ?

Saya pribadi senang dengan perkembangan demokrasi di negara tercinta, khususnya di tahun ini, semua orang tampak antusias menyampaikan pendapatnya masing-masing. Saya hargai itu semua, saya kasih jempol kepada pendapat yang baik dan saya juga ikut mengkritisi pendapat yang tampaknya kurang proporsional. Semua bagian dari proses saling memberi pendapat selayaknya dalam keluarga tidak mungkin semua sama pendapatnya - lha wong saya sama suami saja berbeda dalam hal pilihan presiden ini, it's okay, ga masalah. Malah perbedaan itu jadi memperkaya khazanah, bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda dengan hati yang sejuk, ngga perlu emosi.

Nah, menjelang pemilihan presiden yang makin dekat ini, mari kita sama-sama hening sejenak, tanyakan pada hati nurani masing-masing tentang pilihan yang akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya. In the end its just between us and God...
Semoga penggal episode ini tidak sampai mencederai keimanan kita pada-Nya dan persaudaraan di antara kita yang dilandaskan kasih sayang yang murni.

Silahkan memilih dengan pilihan masing-masing dengan damai dan legowo
Apapun pilihan-Nya, Tuhan sudah menakdirkan yang terbaik untuk bangsa ini
Kita memang harus berikhtiar sebisa mungkin dan dengan cara yang baik
Tapi bahkan kuatnya keinginan kita tidak akan mampu mengoyak takdir-Nya
Let's vote and see where the wind blows and be happy about it ! :)

From Amsterdam with love
3 Juli 2014
9.49 am

Thursday, April 24, 2014

Pengalaman Melahirkan Di Amsterdam

My second pregnancy! Selalu merasa luar biasa merasakan gerakan sang buah hati setiap kalinya.
Memasuki minggu ke-40 dokter kebidanan menyodorkan formulir penelitian yang membandingkan kasus induksi di minggu ke-41 dan minggu ke-42 kehamilan, "just in case" katanya sembari memberi sinyal untuk membicarakan opsi dilakukan induksi di kedua waktu tersebut apabila belum ada tanda-tanda kelahiran, karena risiko pada bayi makin tinggi bila dibiarkan telalu lama di dalam rahim. Wah, hatiku sempat deg-degan, setiap hari aku semangat berjalan membawa si sulung bermain tidak lupa bersepeda ke Utrecht, Weesp atau Amsterdam Zuid, cemunguudh! biar ngga usah diinduksi dan bisa melahirkan normal, mengingat kelahiran pertama dilahirkan dengan Caesar, walaupun sepertinya 'enak' tinggal tidur bayi sudah ada di sebelah, tapi sakit setelah caesar bisa terasa hingga berbulan-bulan kemudian…so please God, ijinkan hamba bisa melahirkan normal kali ini :)

Sabtu, 19 April 2014, jam 3 dini hari bertepatan dengan usia kehamilan 40 minggu 3 hari mulailah merasakan kontraksi lebih intensif, setiap 7-10 menit dan makin nyeri. Kontraksi sudah terasa lebih sering sejak Kamis, kami menghitung dengan menggunakan "Contractions Timer" yang diakses di internet, pokoknya mengikuti saran dokter, "Kalau kontraksinya sudah setiap 5-7 menit telp rumah sakit!". I feel like this is the time. Supaya lebih nyaman, saya biarkan dulu beberapa saat, sambil shalat malam dan menunggu pagi hari.

Jam 8 pagi kami sudah tiba di RS AMC Holendrecht, Amsterdam, setelah membuat janji via telp. Suasana rumah sakit tampak sepi, mungkin karena libur panjang Good Friday disambung Paskah. It's as if we're the only patient there. Kami dipersilahkan masuk ke ruang observasi, dipasang alat CTG untuk memantau detak jantung bayi dan kontraksi ibu, kamar yang nyaman untuk satu orang. Setelah itu bidan dan co-assisten datang menyapa hangat dan tak lupa mengukur vital signs, and by the way the temperature HAVE TO -with a capital words- be per rectum, ugh…aku coba ngeles, "i feel fine, dont feel any fever", dan si co-assistent menjawab sambil tersenyum , "yes but its the procedure".."ok" sanggahku, "can't it be via axilla?" (kan tinggal ditambah 0,5 derajat-an pikirku. "sorry, it has to be per anus"…duh…tai bisa mengelak yo wis, well at least they let me do that by myself :D

Jalan Teruus…

"It's only 1 cm of opening, but the cervix is already soft" , deg! jangan-jangan disuruh pulang lagi, batinku, males banger mesti bulak-balik, and I'm pretty sure saatnya sudah dekat karena merasakan intensitas nyeri yang mulai meninggi.

"why don't you take a walk for two hours, and then be back here, we'll see it from there, but if there's no progress i think it will be better for you to rest at home .."
Yawdah, kita jalan2 aja! ajakku pada suami yang sangat kooperatif dan siap membantuku. Akhirnya kita jalan mencari restoran yang sudah buka pada jam 10an pagi, La Place at Bullewijk akhirnya menjadi tempat kami nongkrong menunggu saatnya tiba, di jalan sesekali aku berhenti dan berpegangan pada suami menahan nyeri kontraksi yang datang mulai 5 menit.

Kami kembali ke rumah sakit sekitar pukul 1 siang, menyempatkan diri berdoa bersama di ruang meditasi yang diperuntukkan bagi semua agama, ruang yang sangat tenang. "Ya Allah berikan persalinan yang lancar untuk Adinda…" aku pun mengaminkan doa suami.

"It's 2 centimeters opening and the cervix getting thinner", begitu kata Residen Obgyn yang memeriksaku kali ini. "I think we're going to put you in the maternity wards and observe you there"
"Yes! alhamdulillah" senangnya ngga disuruh pulang lagi, this is it!
Kami diajak memasuki ruangan nyaman dengan satu tempat tidur merk bagus (HR) - haha..i know about this stuff dari pengalaman kerja di perusahaan distributor alat kesehatan, dan memang nyaman banget tempat tidurnya, desain ruangan VIP padahal kami cuma membayar premi asuransi paket standar :)

Tidak berapa lama dua orang perawat yang ramah berusia 40-50an datang mengukur suhu dan mengajak bercanda, i feel an instant click with them. Sambil bercanda mereka bilang, "Our shift ended at 11 pm, so you have to deliver the baby before our shift ended!" sambil menyemangatiku.

Memasuki jam 4 sore, bukaan sudah 4-5, kontraksi makin terasa sakit dan untuk berjalan pun sudah terasa berat. Perawat memberi saran untuk istrirahat saja karena saya sudah banyak jalan dari pagi, siapkan tenaga untuk persalinan yang diperkirakan akan jatuh malam ini. Kami menunggu saat-saat pembukaan lengkap sambil nonton film seri Heroes di net flix - kebetulan fasilitas wifinya oke banget. Memasuki pembukaan 6-8 saya sudah tidak bisa menikmati nonton film, bahkan muffin coklat kesukaanku yang disediakan suami tidak tampak menggairahkan saat itu, i just fighting the pain of contraction yang datang setiap 3 menit. Jam 8 malam, saat pembukaan 8 cm sang dokter residen mengambil tindakan memecahkan air ketuban, setelah sebelumnya mengeluarkan isi kandung kemih. Dan mulailah saat-saat terberat periode kontraksi karena kepala makin mendesak pintu rahim dan belum boleh ngeden sebelum pembukaannya lengkap…woow, by far that is the most painful thing i've ever experienced in my whole life!

Memasuki jam 10 malam pembukaan sudah lengkap, mulailah saat persalinan dipimpin oleh dokter residen obgyn, dua orang perawat baik hati yang kemudian tinggal hingga jam 12 saking nungguin si bayi lahir..(so sweet of them), saat aku tanya sama mereka jam 11.30.."hey aren't your shift over at 11?" - di sela1-sela menunggu kontraksi untuk 'push' berikutnya, mereka cuma bilang "ssshhh.." haha..

Akhirnya setelah berganti posisi duduk untuk melakukan "push", kepala bayi mulai keluar aku disuruh 'hold' dan ganti posisi untuk mencegah robekan jalan lahir yang dahsyat. Akhirnya Rumi Isaiah Sugihartono lahir pukul 00.02 bertepatan dengan hari Paskah.

Semua nyeri rasanya hilang setelah memeluk si jabang bayi dan mendengar tangisannya. Setelah itu kami tidur bersama - rooming in- dan paginya diperbolehkan pulang setelah mandi dan sudah bisa buang air kecil, and they have to make sure i can pee…belum boleh pulang kalau belum bisa katanya, just to make sure…What a 16 hours!

Wednesday, April 16, 2014

Kebebasan Hidup Menurut Platon

Berbeda dengan pendapat umum tentang kebebasan hidup yang cenderung menjurus kepada kebebasan finansial (baca: bebas melakukan apapun, tidak usah kerja dan keliling dunia), maka Platon cenderung membedakan kebebasan hidup dari hidup sedentari (bermalas-malasan). Menurut Platon, kebebasan hidup bukan berarti seseorang menjadi pasif, akan tetapi tetap menggunakan akal dan raga dalam kekaryaan nyata, tidak sekadar berdiam diri.

Suatu kegiatan yang dilakukan dari dalam jiwa seseeorang berfungsi membebaskan jiwa dan dengan demikian akan memberikan kebahagiaan hakiki pada orang tersebut.  Inilah sebabnya tujuan utama dari pendidikan adalah untuk mengarahkan setiap individu kepada fitrahnya masing-masing, pekerjaan sejatinya.

Menurut Platon, setiap orang mempunyai misi untuk memenuhi tujuan hidupnya secara tepat, sebagaimana kelinci pandai melompat, burung yang pandai terbang, ikan yang pandai berenang dsb. Setiap makhluk diciptakan dengan membawa keahliannya yang spesifik. Menemukan kegiatan yang spesifik itu akan membuat orang terbebas jiwanya, ia bekerja tapi jiwanya bernyanyi, suatu kegiatan yang bersifat “play-like”. Tugas kita selama hidup di bumi ini adalah untuk menemukan harta karun yang tersimpan dalam diri masing-masing, yang tanpanya kita tidak akan pernah merasakan kebebasan sejati dalam hidup, yang tanpa menjalaninya waktu kita hanya habis dari satu kegiatan acak ke kegiatan acak lainnya.


Sumber : http://www.uiowa.edu/~lsa/bkh/200/platoarticle.htm

Thursday, March 13, 2014

Sekilas Mengenai Radang Sendi (Arthritis) Ditinjau Dari Perspektif Sosial Dan Sistem Pengobatan Ayurvedha


 Data antropologi dan  ilmu-ilmu sosial biasanya jarang menjadi bagian yang dipertimbangkan dalam seseorang mengenal suatu penyakit dan pendekatan terapi yang sesuai dengan situasi dan kondisi seseorang. Padahal banyak kearifan local dan yang diwariskan leluhur bernilai tinggi dan menjadi data yang penting dalam hal penanganan radang sendi.

Sang penulis disini menggunakan banyak data antropologis dari area New Delhi ditambah dengan berbagai literature mengenai Terapi Ayurveda dan Unani. Menarik untuk melihat banyak hal yang kita anggap ‘kata orang dulu’ ternyata juga diakui di belahan dunia lain.

Dalam dunia kedokteran yang telah terbagi menjadi sub spesialisasi, Rheumatologi (ilmu yang mempelajari tentang kelainan sekitar persendian) merupakan bagian dari Internal Medicine (ilmu penyakit dalam). Bayangkan, seseorang harus menempuh jenjang pendidikan selama kurang lebih 12- 14 tahun (dari mulai dokter umum menjadi seorang sub spesialis rheumatologi) untuk mempelajari khusus penggal tubuh manusia ini. Dengan bantuan teknologi saat ini sudah teridentifikasi sebanyak ratusan kondisi kelainan sendi. Adapun terapi utamanya masih berkisar pada penanganan nyeri dengan tambahan terapi sekunder berupa terapi fisik sampai operasi penggantian sendi.

Humoral Medical Systems

Pendekatan tata laksana rematik dengan berdasarkan sistem cairan tubuh manusia banyak dipelajari pada jaan Yunani Kuno, Islam Timur, India dan Cina; yang kemudian berkembang ke berbagai wilayah di dunia seiring dengan jalur perdagangan, migrasi dan penaklukan suatu di suatu wilayah.

Dalam khazanah Humoral Traditions penyakit rematik digolongkan dalam penyakit yang disebabkan karena kondisi tubuh yang ‘dingin’ atau ‘berangin’ (agak mirip dengan term masuk angin yang dikenal di Indonesia). Oleh karenanya berbagai aktivitas atau makanan yang menambah suasana ‘dingin’ atau ‘angin’ di dalam tubuh akan memperburuk kondisi rematik. Misal terpapar udara dingin atau angin, makan atau minum yang banyak mengandung gas dll.

Penyakit rematik sudah dikenal lama, pada masa awal agama Buddha (400 SM) rematik ini dikenal sebagai kelainan yang diakibatkan adanya angin di dalam sendi, oleh karenanya mereka melakukan pengobatan berupa bekam (mengeluarkan darah kotor yang bercampur ‘angin’), mengoleskan minyak tertentu yang memberikan sensasi panas yang keduanya berfungsi untuk menarik udara keluar dari sendi.

Hubungan Rematik dan Saluran Cerna

Seorang ahli terapi kesehatan berkata bahwa ada dua hal yang menjadi pintu sehat atau sakit, tergantung cara kita menjaganya; dua hal itu adalah pikiran dan saluran pencernaan.  Dalam kasus penyakit rematik ternyata sistem pengobatan Ayurveda dan Unani mengakui adanya hubungan antara kondisi saluran cerna seseorang dan gejala rematik yang timbul. Dikatakan bahwa saluran cerna yang kurang berfungsi dengan baik menyebabkan makanan tidak dicerna dengan sempurna sehingga banyak menghasilkan udara atau disebut dengan “stomach wind”. Tidak kurang dari pengobatan kuno India dan juga bapak kedokteran dari Arab, Ibnu Sina berpendapat bahwa “kelebihan angin adalah penyebab dari banyak penyakit. Kelebihan angin yang dihasilkan oleh pencernaan yang tidak sempurna itu juga dapat terbawa oleh sirkulasi ke daerah otak – sistem saraf pusat - yang kemudian menimbulkan banyak kelainan  seperti kelumpuhan, stroke bahkan penyakit gila. Orang kuno di India sudah turun temurun menyadari ini sehingga mereka tidak jarang memberikan “digestive powder” bagi orang yang terkena rematik.

Hubungan Rematik, Aktivitas dan Lingkungan

Banyak orang di India mempunyai pemahaman akan pengaruh kondisi dingin dan kejadian rematik. Mereka menghindari makan terlalu banyak makanan atau minuman dingin di satu waktu, duduk terlalu lama di depan kipas angin atau di dalam ruangan yang ber-AC, menghindari mandi di malam hari terutama saat musim dingin. Mereka juga percaya bahwa apabila seseorang bekerja terlalu keras hingga “overheated” kemudian tiba-tiba mendinginkan badannya secara cepat, perubahan suhu yang mendadak ini dapat mencetuskan kejadian rematik.

Hubungan Rematik dan Kepribadian Seseorang

Kepribadian seseorang dapat berpengaruh terhadap metabolisme tubuh dan jenis penyakit yang dibawanya, karena tipe kepribadian tertentu punya kelemahan tubuh di area tertentu. Orang yang rentan terkena rematik adalah yang berkepribadian “cold nature” atau “windy nature”. Ibnu Sina juga mengatakan hal yang serupa, bahwa orang dengan kepribadian phlegmatic cenderung mudah terkena rematik.

Menelaah suatu penyakit dari berbagai sisi; kedokteran, sosial, kultur, lingkungan dsb akan membawa kita kepada pemahaman yang utuh akan gejala yang sedang terjadi pada tubuh untuk kemudian menerapkan terapi yang dengan pendekatan yang menyeluruh.


Sumber: Judy F Pugh. “Concepts of arthritis in India’s medical traditions: Ayurvedic and Unani perspectives”. Social Science & Medicine Jornal. Vol 56, Issue 2, January 2003, p. 415-424.

Wednesday, March 12, 2014

Katanya Allah Maha Besar

Guru saya suatu hari berkata, "Banyak orang yang sholat tapi shalatnya tidak membawa kebaikan bagi dirinya, bahkan makin jauh dari Tuhan, karena dia bohong dalam sholatnya. Berpuluh-puluh kali dia katakan 'Allahu Akbar' dalam sholat tapi dalam keseharian hatinya masih terombang-ambing oleh urusan dunia…"

Kita seringkali baru sekedar berkata di lisan "Allahu Akbar - Allah Maha Besar", padahal seharusnya diiringi dengan kesadaran bahwa Ia lebih Besar kuasanya dibanding semua problematika hidup yang mengelilingi. Diberi ujian anak sakit lantas panik, diberi fenomena konflik dengan rekan sekantor atau famili kemudian jadi pikiran berhari-hari hingga mengganggu konsentrasi sholat, dihadirkan pasangan hidup malah sering cekcok. Ah, benar firman-Nya dalam Al Quran bahwa manusia itu makhluk yang banyak berkeluh kesah, astaghfirullah….

Tuesday, March 11, 2014

I Wish I Believe In Life After Death

Siang kemarin saya berbincang dengan seorang perempuan Belanda yang berkunjung ke rumah dalam rangka sebuah program sosial yang bertujuan untuk membantu orang yang baru datang ke Belanda agar bisa berintegrasi dengan lebih baik. Sang ibu yang tampak energik di usianya yang ke-65 tahun, masih naik sepeda kemana-mana dengan dandanan yang trendi tak kalah dengan anak muda dan postur yang atletis berbagi sepenggal ceritanya yang membuat saya tertegun.

Dua tahun yang lalu suaminya yang terkasih meninggal karena kanker tiroid, penyakit yang tiba-tiba datang dan memporak-porandakan badannya dalam waktu 7 minggu saja, "we didn't saw it coming.." katanya lirih, sembari menceritakan betapa ia dan suaminya menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia selama 42 tahun, mempunyai 2 anak dan 2 cucu, dan sudah merencanakan liburan sana-sini, renovasi rumah dan seabreg kegiatan yang akan dilakukan bersama lainnya.

"When you lost someone that have shared 42 years of togetherness in love, you'll feel like there's a big piece of you that is missing. Of course i'm happy now with my children and cute grandchildren, but i am happier when he was around…" tuturnya sendu. "I'm not into religion, therefore i don't really believe in the life after death, i wish i do now so i know i have hope that we'll be together again…"[]