"Patience is the key to joy"
- Mawlana Jalaluddin Rumi
Apabila Allah telah berkehendak menempatkan sang hamba pada derajat yang tinggi akan tetapi tidak dapat ia capai melalui aktivitas spiritual tertentu, maka Ia akan menguji sang hamba dengan pasangannya, keluarga terdekatnya atau ia harus menanggung kesabaran selama kurun waktu tertentu yang dengan semua itu derajat sang hamba menjadi mulia di hadapan-Nya.
Semua masalah dan kesulitan hidup yang telah, sedang dan akan kita hadapi bukan hadir tanpa sebab. Bukan pula karena salah si fulan. Semua dalam kendali kokoh Sang Pencipta yang tidak pernah dan tidak akan berbuat kesalahan bahkan satu helai rambut pun. Setiap yang menimpa hamba-Nya sudah ditakar dengan tepat dan presisi, dari hal yang tampak nyata dan dahsyat, kejadian sehari-hari yang terlihat begitu-begitu saja, hingga segala 'tamu Tuhan' yang dihadirkan dalam hati dan pikiran yang kasat mata. Hamba yang sejati tidak terhenti pandangannya pada fenomena semata, akan tetapi hatinya selalu menggapai-gapai 'tangan-Nya' yang menggerakkan setiap hal.
Berhenti menyalahkan orang lain. Berhenti menyalahkan diri sendiri. Diamlah sesaat dan lihatlah dari mana semua itu sebenarnya berasal. Dan hanya mengingat-Nya hati menjadi tenang...
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” ― Pramoedya Ananta Toer
Tuesday, May 10, 2016
Monday, May 2, 2016
Bagaimana Mendengar Kata Hati
"Dengarkan kata hati..." demikian orang tua saya selalu berpesan manakala saya harus menjatuhkan pilihan. Mulai dari pemilihan jurusan di perguruan tinggi, memilih tempat bekerja hingga menentukan menerima pinangan yang mana wink emoticon
Tampaknya arahan dari orang tua untuk mengikuti kata hati nurani adalah petuah yang bijak, demikian pun yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam katakan kepada Wabishoh - salah seorang sahabat “Wahai Wabishoh, bertanyalah kepada hatimu (qalb), bertanyalah kepada jiwamu- Nabi katakan sebanyak tiga kali-. Kebaikan adalah apa yang hati merasa tenteram melakukannya. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan” (HR Ahmad no 18035)
Namun tidak mudah untuk menangkap apa yang hati nurani kita katakan, seringkali dalam upaya mendengarkan hati kita sebenarnya malah mendengarkan suara hawa nafsu, syahwat, dan pikiran yang kerap kali lebih lantang. Maka untuk benar-benar mendengarkan bisikan Tuhan yang ditiupkan melalui hati diperlukan keberanian untuk melepaskan diri dari semua suara dalam diri, dari semua angan-angan masa depan, dari ketakutan masa kini, dari kebencian masa lalu, dari bermacam paradigma, dari kungkungan "apa kata orang", karena bertanya kepada hati bukan perkara mengendalikan kehidupan justru kita harus berani melepas semua jubah pemikiran, perisai rencana dan sekian banyak pertahanan pribadi untuk berserah diri kepada bisikan agung yang Sang Maha Kuasa hembuskan ke dalam hati. Tampaknya untuk benar-benar bertanya ke dalam hati kita harus siap untuk mati dari segala kendali diri sendiri...
Sorrow is better than laughter
Sorrow is better than laughter, for by sadness of face the heart is made glad.
- Ecclesiastes 7:3
- Ecclesiastes 7:3
Terkadang Allah menempatkan kita dalam kondisi yang membuat hati kita sedih, terluka, kecewa, kesal atau marah. Jalan-jalannya bisa dari mana saja, pasangan yang membuat kecewa, orang tua atau mertua yang bisa jadi mengesalkan, anak yang bertingkah, rekan bisnis yang menipu, teman kantor yang menusuk dari belakang, pedagang yang curang, mbak-mbak di toko yang judes, kemacetan yang seolah tiada akhir, harga-harga melambung dan sekian banyak pintu keseharian yang bisa menggetarkan cermin hati kita setiap saat.
It's okay to feel sad, itu bagian dari menjadi seorang manusia. Rasa sedih itu harus diakui agar kita menjadi lebih mudah menjalaninya karena kita akan lebih ringan melangkah dengan menerima episode kesedihan itu. Bersedih bukan berarti menderita itu dua hal yang berbeda! Kita sangat bisa bersedih tapi menikmati hari-hari kita dengan hati yang menunduk dan berserah diri kepada-Nya. Dengan kesadaran bahwa setiap perasaan yang datang adalah tamu agung yang Dia kirim ke hati kita yang dengannya hati ini dibuat menjadi lebih bersih dan sehat. Jadi jangan takut dengan kesedihan, ia tak dapat dihindari. Berhenti pula meronta-ronta dan mencari-cari cara yang tidak alami dan tidak sesuai fitrah untuk sekadar mengobati kesedihan. Karena obat yang paling mujarab untuk hidup dengan kesedihan hanya datang dari resep Sang Pengirim kesedihan itu sendiri. Maka mintalah pada-Nya dengan hati yang bersujud...
Tuesday, April 19, 2016
Rejeki Tak Terduga
Rejeki Tak Terduga 1
Sang ibu tua menghitung kembali lembar demi lembar uang yang tergulung rapih di dompetnya yang lusuh "lima puluh empat ribu rupiah..." katanya dengan lirih. Tanggal tua saatnya mengetatkan ikat pinggang katanya dalam hati sambil menelan ludah. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, adik lelakinya berkunjung tiba-tiba dengan muka kusam dan pakaian penuh debu jalanan, ia berjalan kaki selama hampir satu jam demi menghemat ongkos. "Aku perlu pinjaman uang untuk membeli makanan, proyekku terlambat pencairan dananya. Lima puluh ribu saja..."
Sang ibu tua tersenyum, kok pas sekali jumlah yang ia butuhkan. Nuraninya tidak tega untuk menolak. Mengenai uang belanja besok yah kita lihat nanti saja, batinnya. Maka gulungan uang lima puluh ribu pun berpindah tangan. Menjelang sore hari, terdengar suara ketukan pintu lagi, kali ini tetangga di yang tinggal di belakang rumah, langganan yang memesan kue khas bikinan sang ibu tua untuk acara pengajian besok. "Ini bu, saya simpan DP Rp.150.000 dulu ya..."
Rejeki Tak Terduga 2
Sudah lama sang anak lelaki itu menabung untuk mengirim ibundanya ke tanah suci Mekkah, tetapi setiap kali dana sedikit terkumpul, ada saja orang yang datang dan minta bantuan tentang anaknya yang sakit, angkotnya yang mogok, ibunya yang kecelakaan sehingga dana untuk menabung itu akhirnya tidak pernah genap terkumpul. Sang anak lelaki tetap giat bekerja dan memiliki keyakinan suatu saat ia bisa memberangkatkan ibunda tercinta mewujudkan impiannya, menunaikan shalat langsung di depan Ka'bah. Hingga pada saat pengumuman bonus akhir tahun di perusahaannya secara tidak terduga ia meraih penghargaan khusus dan memenangkan hadiah umrah...
Rejeki Tak Terduga 3
Terdengar berita bahwa orang tuanya yang ada di tanah seberang meninggal dunia. Sebagai anak yang berbakti dia tentu harus pulang saat itu juga. Tapi kendalanya biaya tidak ada. Dia mencoba tidak panik dengan minta tolong sana-sini, alih-alih ia menggelar sajadah dan bersimpuh semalaman memohon kepada Yang Maha Memberi Rezeki. Ia punya prinsip untuk mengadu pertama kali kepada Sang Pencipta untuk kemudian mencoba mencari solusi dari manusia keesokan harinya. Menjelang pagi tiba-tiba sahabat dekatnya muncul di depan pintu dengan setengah terburu-buru kelihatannya dan tak sabar untuk menanyakan sesuatu, "Kak, tadi malam saya bermimpi untuk memberikan kakak uang sejumlah X rupiah." Jumlah yang persis dibutuhkan untuk membeli tiket pesawat pulang melayat orang tua tercinta...
Semua kisah di atas adalah kisah nyata, setiap orang yang mengalaminya saya kenal betul dan masih hidup saat ini untuk diminta verifikasi. Hidup terlalu luas untuk tenggelam dalam kepanikan sekadar masalah rezeki. Kemudian Tuhan Sang Pemberi Rezeki terlalu canggih untuk dibaca rencana menurunkan rezekinya jika hanya melihat komponen gaji bulanan, tabungan, deposito, pinjaman teman dan hal-hal yang bersifat horizontal lainnya. Tidak mudah memang untuk lebih percaya kepada rezeki yang di tangan Tuhan dibanding rezeki yang sudah bisa kita hitung, butuh lapisan iman yang tebal dan kepercayaan yang penuh kepada-Nya.
Sang ibu tua menghitung kembali lembar demi lembar uang yang tergulung rapih di dompetnya yang lusuh "lima puluh empat ribu rupiah..." katanya dengan lirih. Tanggal tua saatnya mengetatkan ikat pinggang katanya dalam hati sambil menelan ludah. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, adik lelakinya berkunjung tiba-tiba dengan muka kusam dan pakaian penuh debu jalanan, ia berjalan kaki selama hampir satu jam demi menghemat ongkos. "Aku perlu pinjaman uang untuk membeli makanan, proyekku terlambat pencairan dananya. Lima puluh ribu saja..."
Sang ibu tua tersenyum, kok pas sekali jumlah yang ia butuhkan. Nuraninya tidak tega untuk menolak. Mengenai uang belanja besok yah kita lihat nanti saja, batinnya. Maka gulungan uang lima puluh ribu pun berpindah tangan. Menjelang sore hari, terdengar suara ketukan pintu lagi, kali ini tetangga di yang tinggal di belakang rumah, langganan yang memesan kue khas bikinan sang ibu tua untuk acara pengajian besok. "Ini bu, saya simpan DP Rp.150.000 dulu ya..."
Rejeki Tak Terduga 2
Sudah lama sang anak lelaki itu menabung untuk mengirim ibundanya ke tanah suci Mekkah, tetapi setiap kali dana sedikit terkumpul, ada saja orang yang datang dan minta bantuan tentang anaknya yang sakit, angkotnya yang mogok, ibunya yang kecelakaan sehingga dana untuk menabung itu akhirnya tidak pernah genap terkumpul. Sang anak lelaki tetap giat bekerja dan memiliki keyakinan suatu saat ia bisa memberangkatkan ibunda tercinta mewujudkan impiannya, menunaikan shalat langsung di depan Ka'bah. Hingga pada saat pengumuman bonus akhir tahun di perusahaannya secara tidak terduga ia meraih penghargaan khusus dan memenangkan hadiah umrah...
Rejeki Tak Terduga 3
Terdengar berita bahwa orang tuanya yang ada di tanah seberang meninggal dunia. Sebagai anak yang berbakti dia tentu harus pulang saat itu juga. Tapi kendalanya biaya tidak ada. Dia mencoba tidak panik dengan minta tolong sana-sini, alih-alih ia menggelar sajadah dan bersimpuh semalaman memohon kepada Yang Maha Memberi Rezeki. Ia punya prinsip untuk mengadu pertama kali kepada Sang Pencipta untuk kemudian mencoba mencari solusi dari manusia keesokan harinya. Menjelang pagi tiba-tiba sahabat dekatnya muncul di depan pintu dengan setengah terburu-buru kelihatannya dan tak sabar untuk menanyakan sesuatu, "Kak, tadi malam saya bermimpi untuk memberikan kakak uang sejumlah X rupiah." Jumlah yang persis dibutuhkan untuk membeli tiket pesawat pulang melayat orang tua tercinta...
Semua kisah di atas adalah kisah nyata, setiap orang yang mengalaminya saya kenal betul dan masih hidup saat ini untuk diminta verifikasi. Hidup terlalu luas untuk tenggelam dalam kepanikan sekadar masalah rezeki. Kemudian Tuhan Sang Pemberi Rezeki terlalu canggih untuk dibaca rencana menurunkan rezekinya jika hanya melihat komponen gaji bulanan, tabungan, deposito, pinjaman teman dan hal-hal yang bersifat horizontal lainnya. Tidak mudah memang untuk lebih percaya kepada rezeki yang di tangan Tuhan dibanding rezeki yang sudah bisa kita hitung, butuh lapisan iman yang tebal dan kepercayaan yang penuh kepada-Nya.
Thursday, April 14, 2016
Cara Mendapatkan Ketenangan
Ketenangan yang engkau cari bukan terletak pada berapa banyak harta yang kau kumpulkan dan dengannya kau bentengi dirimu sendiri dari ketakutan akan kemiskinan yang merayap dalam hatimu yang gelap.
Ketenangan yang kau cari tidak akan kau temui pada segenap obyek kesenangan yang kau kejar sedemikian rupa hingga tak lagi dapat kau pisahkan antara sensasi kesenangan sesaat dan kebahagiaan hakiki karena hatimu demikian berkarat dan tak mampu memantulkan cahaya-Nya.
Ketenangan yang kau cari pun tak akan dapat kau genggam dengan melemparkan sauh ke obyek-obyek kecintaan selain Aku. Karena apapun selain Aku akan musnah pada saatnya.
Maka carilah ketenangan dengan mendekatkan hatimu pada-Ku, kapan pun, dimana pun, Aku selalu ada bersamamu. Karena dengan mengingat-Ku hati menjadi tenang...
(QS Ar Ra'du:28)
(QS Ar Ra'du:28)
#inspirasi pagi pasca riyadhoh, Amsterdam 6.41 pagi sambil menunggui anak-anakku menjelang harinya
Thursday, April 7, 2016
Mengapa Indonesia Merdeka Tanggal 17 Agustus
Rumah ini dan sekitarnya gelap. Jauh di dalam di ruang duduk
tampak satu lampu saja yang menyala. Di dalam kegelapan itu sekilas aku melihat
sesuatu yang berkilat. Kelihatannya seperti sepotong baja. Aku menatapnya lagi
dan melihat sebilah pisau. Sebilah pisau panjang yang disisipkan pada ikat
pinggang salah seorang pemuda. Kemudian aku perhatikan, di saku masing-masing
pemuda itu ada sesuatu yang menonjol. Para tamuku bersenjata lengkap dengan
bedil, pisau, bahkan golok.
Di balik pintu yang menuju beranda aku dapat melihat sekilas
bayangan Fatmawati, Sayuti Melik dan Trimurti. Mereka, juga, pasti melihat apa
yang kulihat karena ketiganya dicekam ketakutan.
Meski terjadi perdebatan yang panas dan sengit, tak seorang
pun yang memukul meja atau berteriak-teriak. Suara kami dapat dikendalikan. Di
sekeliling rumah ada kebun terbuka dan kami berbicara sedemikian rupa, sehingga
tak terdengar oleh orang lain.
Seorang dari para pemuda itu mengejekku dengan suara pelan:
“Boleh jadi Bung Besar kita takut. Boleh jadi dia melihat hantu dalam gelap.
Boleh jadi dia tetap menunggu-nunggu perintah dari Tenno Heika.”
Wikana, pemimpin pemuda yang lain, mengikuti ejekan ini dengan
gerakan yang mendadak dan mengejutkan. Dia mencoba menggertakku. “Kami tidak
ingin mengancammu, Bung,”katanya dengan suara parau sambil mengancam ke arahku
dengan pisau terhunus di tangannya. “Tapi revolusi sekarang ada di tangan kami
dan Bung di bawah kekuasaan kami. Kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini,
lalu…”
“Lalu apa?” teriakku sambil melompat dari kursi dalam
keadaan sangat marah. “Jangan coba-coba mengancamku. Jangan kalian berani
memerintahku. Justru kalian harus mengerjakan apa yang kuinginkan. Aku tak akan
pernah mau dipaksa menuruti kemauan kalian!”
Aku melompat ke tengah para pemuda yang memegang senjata
itu, menekukkan kepalaku ke bawah, menjulurkan leherku keluar, dan membuat
gerak untuk memotong tenggorokanku. “INI,”kataku mencemooh. “Ini leherku. Boleh
potong… Hayo, boleh penggal kepalaku… kalian bisa membunuhku…tapi aku tidak
pernah mau mengambil risiko untuk melakukan pertumpahan darah yang sia-sia,
hanya karena kalian hendak melakukan sesuatu menurut kemauan kalian.”
Mereka langsung diam, dan keheningan mencekam. Tak seorang
pun tahu apa yang harus dilakukan. Tak ada yang bergerak. Mereka takut. Malu.
Marah. Kecewa. Aku mengangkat kepala dan dengan sengaja aku menatap mereka. Aku
menatap langsung ke wajah mereka sehingga mereka satu demi satu menjatuhkan
pandangan mereka.
Aku duduk lagi. Butir-butir keringat menggantung di bibir
atasku. Tak ada lagi yang menyebut Sukarno pengecut. Aku menangkap mata
Fatmawati di bagian lain dari kusen pintu. Mukanya kelihatan murung dan tegang.
Ia menyaksikan semua kejadian itu dengan sungguh-sungguh. Dengan nada rendah
kumulai kembali percakapan kami, “Yang paling penting di dalam suatu peperangan
dan revolusi adalah waktu yang tepat. Di Saigon aku sudah merencanakan seluruh
pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17.”
“Mengapa tanggal 17, tidak lebih baik sekarang saja atau
tanggal 16?”tanya Sukarni.
“Aku percaya pada mistik. Aku tidak dapat menerangkan yang
masuk akal mengapa tanggal 17 memberikan harapan kepadaku. Tetapi aku merasakan
di dalam relung hatiku bahwa dua hari lagi adalah saat yang baik. Tujuh belas
adalah angka yang suci. Tujuh belas adalah angka keramat. Pertama-tama, kita sedang
berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita berpuasa sampai Lebaran, benar
tidak?”
“Ya.”
“Ini berarti saat yang paling suci, bukan?”
“Ya.”
“Hari Jumát ini Jum’at Legi. Jum’at yang manis. Jum’at suci.
Dan hari Jum’at tanggal 17. Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam
melakukan sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad
memerintahkan 17 rakaat, bukan 10 atau 20? Karena kesucian angka 17 bukanlah
buatan manusia.”
“Ketika aku pertama kali mendengar berita penyerahan Jepang
, aku berpikir kita harus segera memproklamirkan kemerdekaan. Kemudian aku
menyadari, adalah takdir Tuhan bahwa peristiwa ini akan jatuh di hari
keramat-Nya. Proklamasi ini akan berlangsung tanggal 17. Revolusi akan
mengikuti setelah itu…”
Friday, April 1, 2016
Mohon Bimbingan-Nya Ketika Mengeluarkan Harta
Almarhum mursyid sangat tertib dalam membelanjakan uangnya, seorang sahabat salik yang bertugas mengolah semua jurnal pribadi beliau bersaksi bahwa setiap hari beliau mencatat dengan detil semua pengeluaran uangnya yang tidak banyak itu. Sahabat salik lain yang seorang bankir yang kerap ditugasi menyimpan uang pemberian dari para murid beliau berkata bahwa hingga akhir hayat beliau uang pemberian para muridnya - yang diberikan karena kasih sayang dan sukarela, barangkali karena tersentuh melihat kehidupan mursyidnya yang demikian sederhana - setiap perak dari uang itu masih utuh tersimpan di bank. Almarhum mursyid tidak pernah menggunakan uang dari murid-muridnya untuk kepentingan pribadi.
Mursyid penerusnya demikian juga akhlaknya terhadap harta, sangat sederhana dan hati-hati dalam mengambil keputusan untuk membeli sesuatu. Pernah suatu hari istrinya bertanya untuk membeli mobil tipe tertentu karena butuh untuk kendaraan sehari-hari dan kebetulan dananya sudah tersedia, sang mursyid menjawab "Jangan mobil yang itu, tidak sesuai dengan kadar rumah tangga kita, cari yang lebih seederhana ya...". Padahal saya tahu persis kalau mursyid saya ini menunjuk sebuah mobil pasti murid-murid dekatnya berlomba-lomba ingin menghadiahkan itu untuknya sebagai tanda cinta. Tapi ya, kami para muridnya pun diajari untuk berhati-hati bahkan ketika memberi beliau hadiah.
Sikap hati-hati beliau berdua dalam melakukan setiap tindakan sangat berkesan. Tanpa banyak khotbah kehidupan mereka berbicara lantang tentang makna sebuah keberserahdirian. Bahwa hidup kita bukan milik kita demikian dengan apa pun yang dihadirkan dalam hidup kita. Jadi akhlak yang dibangun di sini dalam kehati-hatian adalah senantiasa memohon kepada Allah Ta'ala. Dalam hening sesaat, mencoba menyambungkan hati dengan-Nya, apabla ini kerap dilakukan maka kedekatan batin dengan Dia tak terelakkan. Dan pasti Dia akan memberi jawaban, karena hati (qalbu) adalah tempat insan menerima petunjuk Sang Maha Kuasa.
Barangkali kita harus lebih sering meminta petunjuknya, tidak hanya sebatas saat keputusan-keputusan 'besar' harus diambil seperti memilih jodoh, memilih pekerjaan, lokasi rumah atau lainnya. Tapi juga saat kita menerima gaji setiap bulannya. Teringat ilmu hujan, bahwa setiap titik air yang turun ditugaskan satu malaikat untuk ditempatkan di titik yang telah ditetapkan, maka setiap rupiah pendapatan kita pun pastinya telah ada peruntukannya. Sesuatu yang apabila kita cermat dan tepat menempatkannya maka insya Allah hisabnya ringan di akhirat nanti...
Mursyid penerusnya demikian juga akhlaknya terhadap harta, sangat sederhana dan hati-hati dalam mengambil keputusan untuk membeli sesuatu. Pernah suatu hari istrinya bertanya untuk membeli mobil tipe tertentu karena butuh untuk kendaraan sehari-hari dan kebetulan dananya sudah tersedia, sang mursyid menjawab "Jangan mobil yang itu, tidak sesuai dengan kadar rumah tangga kita, cari yang lebih seederhana ya...". Padahal saya tahu persis kalau mursyid saya ini menunjuk sebuah mobil pasti murid-murid dekatnya berlomba-lomba ingin menghadiahkan itu untuknya sebagai tanda cinta. Tapi ya, kami para muridnya pun diajari untuk berhati-hati bahkan ketika memberi beliau hadiah.
Sikap hati-hati beliau berdua dalam melakukan setiap tindakan sangat berkesan. Tanpa banyak khotbah kehidupan mereka berbicara lantang tentang makna sebuah keberserahdirian. Bahwa hidup kita bukan milik kita demikian dengan apa pun yang dihadirkan dalam hidup kita. Jadi akhlak yang dibangun di sini dalam kehati-hatian adalah senantiasa memohon kepada Allah Ta'ala. Dalam hening sesaat, mencoba menyambungkan hati dengan-Nya, apabla ini kerap dilakukan maka kedekatan batin dengan Dia tak terelakkan. Dan pasti Dia akan memberi jawaban, karena hati (qalbu) adalah tempat insan menerima petunjuk Sang Maha Kuasa.
Barangkali kita harus lebih sering meminta petunjuknya, tidak hanya sebatas saat keputusan-keputusan 'besar' harus diambil seperti memilih jodoh, memilih pekerjaan, lokasi rumah atau lainnya. Tapi juga saat kita menerima gaji setiap bulannya. Teringat ilmu hujan, bahwa setiap titik air yang turun ditugaskan satu malaikat untuk ditempatkan di titik yang telah ditetapkan, maka setiap rupiah pendapatan kita pun pastinya telah ada peruntukannya. Sesuatu yang apabila kita cermat dan tepat menempatkannya maka insya Allah hisabnya ringan di akhirat nanti...
Subscribe to:
Posts (Atom)