Monday, October 24, 2016

Jangan Biasakan Buka Hape Pasangan

Jangan biasakan sembunyi-sembunyi buka hape pasangan, kecuali beliau mengijinkan.
Pertama, kita sebaiknya menghargai ruang privasi masing-masing dan memberikan ruang kepercayaan kepada pasangan.
Kedua, pesan yang diterima hanya yang bersangkutan yang mengerti konteks dan cerita utuhnya.
Ketiga, dalam setiap saatnya ada kewajiban yang harus dilaksanakan bagi setiap diri. Sangat besar kemungkinan buka-buka hape orang bukan bagian dari kewajiban itu.
Ingat segala sesuatu akan dihisab!
Lebih baik fokus pada tugas kita masing-masing.

Sunday, September 18, 2016

Jangan Memaksakan Diri Jadi Pemimpin

Terkesan oleh keputusan yang diambil oleh dua orang kolega suami saya yang tergolong senior dalam profesinya untuk menanggalkan posisi sebagai manajer secara sukarela dan kembali berkecimpung dalam posisi non-manajerial. Padahal dua-duanya diakui kapasitasnya yang baik dalam pekerjaan, salah satunya bahkan ditawari ruangan khusus untuk mengerjakan fungsinya, sesuatu yang ia tolak dengan halus karena tidak ingin nampak beda dari rekan-rekannya yang lain.

Ini fenomena yang baru saya dengar, karena yang pernah saya saksikan adalah orang bisa sikut kiri-kanan, jilat sana-sini untuk bisa naik jabatan dan sangat suka menonjolkan diri agar terlihat beda dan dipandang lebih hebat dibanding yang lain.

Perlu kejujuran dan pengetahuan akan kejatidirian yang baik untuk bisa menakar apakah suatu pekerjaan atau posisi adalah hal yang pas (thayyib) bagi diri. Jadi pemimpin atau manajer sesungguhnya bukan ukuran kesuksesan, karena keberhasilan yang sesungguhnya adalah menemukan bidang dan posisi yang pas dengan natur jiwa kita. Yang hanya dengan itu kebahagiaan sejati akan dapat dirasakan.

Perihal mengidentifikasikan pekerjaan yang pas ini digambarkan oleh guru saya seperti mengidentifikasi jenis tunggangan apa yang sang jiwa kita kendarai. Apakah raga kita berjenis kuda pacu atau keledai? Kuda pacu tidak lebih baik dari keledai, karena dua-duanya adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan kebaikan masing-masing. Akan tetapi keledai yang memaksakan diri melatih ototnya ingin menjadi kuda pacu tidak akan bahagia sama halnya dengan kuda pacu yang emoh berlatih dan memilih mengangkut-angkut barang bagaikan keledai.

Nah, kembali ke contoh kedua orang di atas, mereka bisa jadi adalah contoh sedikit dari mereka yang memahami kadar dirinya. Tidak memaksakan diri menjadi pemimpin kalau bukan bidangnya.

Tuesday, August 30, 2016

Bagaimana Mungkin Muhammad Yang Lembut Mengajarkan Kekerasan?

Muhammad saw adalah orang yang sangat (kalau tidak paling) lembut yang pernah hidup.
Beliau yang selalu membalas kebaikan dengan keburukan dan memaafkan mereka yang pernah menyakitinya baik secara lisan atau fisik.
Beliau yang menganjurkan kalau sedang bertiga maka yang dua orang jangan berbisik-bisik di hadapan teman yang lain, karena untuk menjaga perasaannya.
Beliau yang mengajarkan kalau orang bersin maka doakan ia kebaikan, tidak cuek dan seolah bersikap itu bukan urusannya. Sebuah demonstrasi sebuah empati yang luar biasa.
Beliau yang memilih tidur di depan pintu rumah saat sang istri tidak jua bangun saat rumahnya diketuk di malam hari.
Sangat sulit bagi saya membayangkan pribadi yang luar biasa tinggi akhlaknya tidak hanya terhadap sesama tetapi kepada binatang dan alam semesta ini memerintahkan menyakiti seorang insan seperti yang diklaim oleh para pelaku kekerasan itu...

Saturday, August 20, 2016

Menangis Mendengar `La Isla Bonita`

Sore ini terdengar suara dari tetangga sebelah yang memutar lagu `La Isla Bonita´nya Madonna. Kenangan saya melayang pada salah satu fragmen dalam hidup saya sekitar 13 tahun yang lalu di kota Cilegon.
Pagi hari selepas malamnya mengikuti pengajian di rumah sang mursyid, kami meluangkan waktu membersihkan rumah beliau secara sukarela. Ada yang mencuci piring, ada yang menyapu musholla dan saya kebagian melap perabotan yang ada di ruang tamu. Aktivitas saya terhenti sejenak saat mengamati koleksi kaset bapak mursyid, salah satunya ada album Madonna `La Isla Bonita`. Wooow! Bapak suka juga denger Madonna, pikirku dalam hati.
Lalu beberapa detik kemudian bapak yang tengah berada di ruangan lain berkata dengan lantang `Ya, bapak juga kan pernah muda`. Duh aku lupa bahwa mursyidku itu pandangannya bisa menembus jauh apalagi hanya disekat oleh dinding. Tidak berhenti di situ, bapak mursyid mendekati saya yang saat itu salah tingkah dan mulai mengambil kaset Madonna tersebut untuk kemudian memutarnya sambil melayangkan senyuman khasnya kepada saya. Beliau tahu tampaknya kalau saya suka Madonna. Itulah sekeping ingatan akan mursyidku yang jenaka, baik hati dan selalu kuingat dengan senyumnya yang indah.
Sore ini, saat saya mendengar lagu itu tak terasa air mata mengalir deras di pipi dan saya pun menangis mengenang beliau. Untung hanya ada saya dan laptop di ruangan. Agak aneh soalnya jika ada yang melihat orang menangis sesenggukan mendengarkan `La Isla Bonita`
#al faatihah untuk beliau

Monday, July 18, 2016

Sahabat Yang Menginspirasi

Beberapa hari terakhir ini saya kedatangan tamu dari tanah air, bukan secara fisik akan tetapi kami melakukan diskusi yang intens melalui chat app. Mereka adalah sahabat-sahabat yang saya telah kenal lebih dari satu dekade lamanya. Mereka berdua sedang dilanda ujian yang berat dalam kehidupan yang menghimpit dada, menyakitkan dan sedemikian terasa berat hingga batin menjerit "kapankah kiranya pertolongan Allah itu tiba?"
Saya sangat bersyukur Allah hadirkan mereka dalam hidup saya, perjuangan mereka dan kekuatan pencarian mereka kepada Allah Ta'ala membuahkan inspirasi tersendiri. Bayangkan sudah babak belur, habis tenaga, pikiran, material sudah tak terhitung. Mereka masih bisa mengalunkan kata-kata dari lisannya: "Alhamdulillah, ini yang terbaik dari Allah Ta'ala."; "Kalau ini yang Allah inginkan maka akan saya lakoni."; "Bukankah takdir kita hari ini adalah takdir yang terbaik." " Semua indah pada saatnya." Semua adalah penggalan kata yang sering kita dengar, akan tetapi saat itu diucapkan dengan sungguh-sungguh oleh orang yang tengah meregang menahan beban ujian, maka kekuatan dari kata-kata itu sungguh merasuk ke dalam hati orang yang menyaksikannya.
Kiranya pagelaran yang tengah dilakoni oleh kedua sahabat saya ini makin mengokohkan keyakinan saya bahwa kekuatan manusia terletak dari kemampuannya untuk berserah diri, mengakui kefakiran dan kelemahan dirinya. Kekuatan yang berasal dari cahaya anugerah-Nya yang menembus ke relung kalbu yang tidak jarang harus didahului oleh sebuah episode penghancuran hijab hati yang menghalangi. Sehingga semakin kuat cahaya iman seseorang semakin rendah diri ia, tidak petantang-petenteng di hadapan manusia apalagi di hadapan Tuhannya yang senantiasa mengawasinya. Seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk...
Terima kasih sahabat atas kepercayaan dan secercah pengetahuan hidup yang dibagikan. Semoga Allah Ta'ala semakin meneguhkan pijakanmu dalam shiraathal mustaqiim.

Belajar Tenang dan Sabar Menunggu Pertolongan-Nya

Salah satu pesan guru saya yang selalu disimpan di hati adalah "Bersikaplah tenang menghadapi kondisi segila apapun dan jangan terburu-buru mengambil keputusan hingga Allah bukakan jalan keluarnya."
Kebetulan sekali siang ini saya diberi kesempatan mendemonstrasikan jurus di atas. Ceritanya saya dan suami mengikuti acara Sufi Summer School di Katwijk, sebuah acara tahunan yang diselenggarakan oleh Sufi Movement, bagian dari murid-murid almarhum Hazrat Inayat Khan, seorang sufi yang menyebarkan Islam ke Eropa tahun di 1910. Kami bergantian memasuki kelas di saat salah satu mengasuh anak-anak.
Hari ini pergantian "piket" dilaksanakan di pinggir pantai, depan restoran tempat anak-anak bisa puas bermain pasir pantai. Semburan matahari musim panas mulai terasa menyengat. Dan kami pun melaksanakan serah terima anak-anak dengan lancar kecuali satu hal, kunci kamar yang kami sewa di bread and breakfast lupa dialihkan! Saya baru menyadari hal itu setelah berada di depan pintu penginapan kami dengan kondisi Rumi tertidur di stroller dan Elia sudah hampir tertidur kelelahan di atas sepeda kayunya.
Mau telepon baterenya habis, mau menghubungi resepsionis sudah tutup kantornya jam 12 dan ini hari minggu dimana kebanyakan toko dan aktivitas tutup. Mau menyusul papanya anak-anak ke Soefi Temple yang memakan perjalanan sekitar 30 menit dengan berjalan kaki agak tidak mungkin karena Elia sudah hampir tertidur kelelahan.
Nah inilah saatnya mempraktikkan jurus yang diajari guru saya itu. "Tenang...tenang...." Ujar saya menenangkan diri sendiri. Kami kemudian mencari tempat duduk kecil di pinggir jalan tepat di sebelah pintu hotel. Pikiran saya menerawang menelaah sekian skenario, dari mulai memanjat ke kamar yang terletak di lantai dua, mencongkel jendela di bawah hingga mengaktivasi alarm kebakaran, okey yang terakhir rasanya terlalu ekstrim dan bisa-bisa saya dipenjara karena berbuat onar.
Saya pun mulai berdzikir "laa hawla wa laa quwaata illa billah" untuk mengendapkan ide-ide nekad yang bermunculan itu. Anak-anak mulai tertidur. Saya pun telah menyiapkan mental hingga dengan skenario menunggu papanya anak-anak datang membawa kunci di sore hari, which is about 4-5 hours from now...(sigh).
"Ok, let's make the best of it" bisik saya berikhtiar memompakan semangat kepada diri sendiri. Pandangan saya tertuju kepada wajah-wajah polos anak-anak yang tertidur lelap, kemudian menelusuri biru langit yang cerah hingga mengamati pola trotoir jalan yang unik yang belum pernah saya perhatikan sebelumnya. Ketika saya tengah terlarut dalam simfoni alam tiba-tiba kedua mata saya menangkap sesosok wajah yang saya kenal! Perempuan muda ramah yang bertugas di pagi hari melayani sarapan di ruang makan para penghuni penginapan, ia menghampiri dan menyapa. It doesn't take a genius untuk melihat kami tengah terdampar di pinggir jalan. Ia pun mengeluarkan kunci cadangannya sambil berkata "you are very lucky, i was supposed to go home hours ago but somehow something drove me here".
Ah memang betul, tenang saja dan bersabar hingga Dia bukakan jalan keluarnya Alhamdulillah

Michael Buble - BeeGees & Pharell Williams

Dalam enam tahun terakhir saya diperjalankan dalam episode "Michael Buble", "BeeGees" kemudian "Pharell Williams".
Pada awalnya saya merasa "im in control of my life" ‪#‎singing‬ i've got the world on a string.
Life was like a walk in a park, damai, rejeki lancar mengalir, terbilang cukup sukses versi pakem kebanyakan orang.
Hingga saya mulai dicemplungkan dalam dunia pernikahan, dua tahun pertama bagaikan naik roller coaster, komunikasi di antara kami belum lancar, tidak punya pekerjaan dan income sendiri, harus mengurus anak-anak tanpa pembantu dan jauh dari keluarga. That was an episode of annihilation for me. Dihancur leburkan ego saya. #singing how can you mend a broken heart.
Hari demi hari dan malam demi malam saya terus berjalan menerjang semua kelelahan lahir dan batin, menangkis semua kepenatan setelah mengurus anak dan rumah tangga seharian penuh, rasanya perjalanan suluk saya selama 12 tahun seakan dipersiapkan untuk menghadapi episode ini. Tidak jarang dalam sujud saya menitikkan air mata, lelah, sedih dan kebingungan seakan menyelubungi akal sehat saya dan membuat dada sesak. Ada rasa marah, sedih, putus asa bergejolak di dalam hati; namun saya juga masih merasakan ada kualitas cinta, pemaafan, kasih sayang dan asa yang berpijar di lubuk yang terdalam. Hingga akhirnya lisan saya berkata lirih "I give up Lord, i give up my life, my expectations, my dreams my all to You completely. Silakan lakukan apapun yang Engkau ingin lakukan terhadap hamba dan kehidupan hamba. Karena aku adalah milik-Mu semata, bukan milik mimpi dan keinginanku apalagi egoku.
Tak lama setelah itu saya mulai merasakan denyut kehidupan mulai mengalir di dalam jiwa. Disusul oleh pancaran kekuatan spiritual yang luar biasa yang berasal dari dalam diri. Kiranya Dia membalas ijab qabul saya saat itu juga. Ya, Dia yang berlari ketika hamba-Nya berjalan mendekat. Dia yang tidak pernah sekali pun memalingkan wajah bahkan saat si hamba tersibukkan oleh ilusinya sendiri.
Sejak malam itu dada saya dibuat menjadi lapang dalam menerima kehidupan. Tadinya saya sangat terobsesi dengan melakukan banyak hal baik dalam pencapaian duniawi atau spiritual. Sekarang saya mulai perlahan berjalan, less doing and start being, accepting all things as they are. Efeknya? Saya jadi ibu yang lebih sabar dan menghadapkan diri lebih baik kepada anak-anak. Suami saya bilang komunikasi kita menjadi lebih baik dan pernikahan kita comes to another level. Inspirasi datang mengalir dan direstui oleh mursyid sebagai amal sholeh yang saya sangat syukuri.
Jadi siapapun yang sedang dirundung dalam kesedihan, kesulitan hidup, kegalauan hati yang kadang membuat kita berteri "kapan kiranya pertolongan Allah tiba?" Just hang in there. Semua akan reda jika ia telah memenuhi kadarnya dengan pertolongan Allah Ta'ala. This too shall pass.
Kita nikmati dan hayati setiap tamu Tuhan yang dihadirkan, baik secara fisik atau yang halus di dalam hati. #singing "because i'm happy..."
- Disampaikan pada Sufi Summer School 2016, Katwijk. The Netherlands.