Thursday, April 7, 2016

Mengapa Indonesia Merdeka Tanggal 17 Agustus

Rumah ini dan sekitarnya gelap. Jauh di dalam di ruang duduk tampak satu lampu saja yang menyala. Di dalam kegelapan itu sekilas aku melihat sesuatu yang berkilat. Kelihatannya seperti sepotong baja. Aku menatapnya lagi dan melihat sebilah pisau. Sebilah pisau panjang yang disisipkan pada ikat pinggang salah seorang pemuda. Kemudian aku perhatikan, di saku masing-masing pemuda itu ada sesuatu yang menonjol. Para tamuku bersenjata lengkap dengan bedil, pisau, bahkan golok.

Di balik pintu yang menuju beranda aku dapat melihat sekilas bayangan Fatmawati, Sayuti Melik dan Trimurti. Mereka, juga, pasti melihat apa yang kulihat karena ketiganya dicekam ketakutan.
Meski terjadi perdebatan yang panas dan sengit, tak seorang pun yang memukul meja atau berteriak-teriak. Suara kami dapat dikendalikan. Di sekeliling rumah ada kebun terbuka dan kami berbicara sedemikian rupa, sehingga tak terdengar oleh orang lain.

Seorang dari para pemuda itu mengejekku dengan suara pelan: “Boleh jadi Bung Besar kita takut. Boleh jadi dia melihat hantu dalam gelap. Boleh jadi dia tetap menunggu-nunggu perintah dari Tenno Heika.

Wikana, pemimpin pemuda yang lain, mengikuti ejekan ini dengan gerakan yang mendadak dan mengejutkan. Dia mencoba menggertakku. “Kami tidak ingin mengancammu, Bung,”katanya dengan suara parau sambil mengancam ke arahku dengan pisau terhunus di tangannya. “Tapi revolusi sekarang ada di tangan kami dan Bung di bawah kekuasaan kami. Kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu…”

“Lalu apa?” teriakku sambil melompat dari kursi dalam keadaan sangat marah. “Jangan coba-coba mengancamku. Jangan kalian berani memerintahku. Justru kalian harus mengerjakan apa yang kuinginkan. Aku tak akan pernah mau dipaksa menuruti kemauan kalian!”
Aku melompat ke tengah para pemuda yang memegang senjata itu, menekukkan kepalaku ke bawah, menjulurkan leherku keluar, dan membuat gerak untuk memotong tenggorokanku. “INI,”kataku mencemooh. “Ini leherku. Boleh potong… Hayo, boleh penggal kepalaku… kalian bisa membunuhku…tapi aku tidak pernah mau mengambil risiko untuk melakukan pertumpahan darah yang sia-sia, hanya karena kalian hendak melakukan sesuatu menurut kemauan kalian.”
Mereka langsung diam, dan keheningan mencekam. Tak seorang pun tahu apa yang harus dilakukan. Tak ada yang bergerak. Mereka takut. Malu. Marah. Kecewa. Aku mengangkat kepala dan dengan sengaja aku menatap mereka. Aku menatap langsung ke wajah mereka sehingga mereka satu demi satu menjatuhkan pandangan mereka.

Aku duduk lagi. Butir-butir keringat menggantung di bibir atasku. Tak ada lagi yang menyebut Sukarno pengecut. Aku menangkap mata Fatmawati di bagian lain dari kusen pintu. Mukanya kelihatan murung dan tegang. Ia menyaksikan semua kejadian itu dengan sungguh-sungguh. Dengan nada rendah kumulai kembali percakapan kami, “Yang paling penting di dalam suatu peperangan dan revolusi adalah waktu yang tepat. Di Saigon aku sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17.”

“Mengapa tanggal 17, tidak lebih baik sekarang saja atau tanggal 16?”tanya Sukarni.
“Aku percaya pada mistik. Aku tidak dapat menerangkan yang masuk akal mengapa tanggal 17 memberikan harapan kepadaku. Tetapi aku merasakan di dalam relung hatiku bahwa dua hari lagi adalah saat yang baik. Tujuh belas adalah angka yang suci. Tujuh belas adalah angka keramat. Pertama-tama, kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita berpuasa sampai Lebaran, benar tidak?”
“Ya.”
“Ini berarti saat yang paling suci, bukan?”
“Ya.”

“Hari Jumát ini Jum’at Legi. Jum’at yang manis. Jum’at suci. Dan hari Jum’at tanggal 17. Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam melakukan sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad memerintahkan 17 rakaat, bukan 10 atau 20? Karena kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia.”


“Ketika aku pertama kali mendengar berita penyerahan Jepang , aku berpikir kita harus segera memproklamirkan kemerdekaan. Kemudian aku menyadari, adalah takdir Tuhan bahwa peristiwa ini akan jatuh di hari keramat-Nya. Proklamasi ini akan berlangsung tanggal 17. Revolusi akan mengikuti setelah itu…”

No comments:

Post a Comment