Wednesday, July 23, 2014

Pitfall of Democracy: Suara Terbanyak Belum Tentu Benar

*apalagi kalau curang dalam mengumpulkan suara
Sejarah mencatat proses demokrasi pertama kali terjadi saat pemerintahan Cleisthenes di Yunani tahun 507 SM, ia yang pertama kali menyerukan agar semua orang diperbolehkan untuk memberikan suara dalam rangka memilih wakil rakyat yang duduk di pemerintahan.
Asumsi dalam demokrasi adalah bahwa setiap suara benar-benar diperhitungkan untuk menghasilkan sesuatu yang baik atau benar. Tapi rasanya ini baru bisa terjadi kalau sebagian besar pemilih sudah paham mengenai konsep kebenaran (al haq) karena jika keputusan memilih itu dilandaskan oleh kepercayaan dengan dasar yang lemah, maka hal yang dipercaya itu belum tentu benar. Dikatakan dahulu terdapat beberapa contoh tentang khayalan kolektif tentang kebenaran yang kemudian terbukti tidak benar, misal bahwa bumi kita datar, bahwa bumi adalah pusat dari tata surya atau dulu orang pernah berpikir bahwa hewan tidak bisa merasakan sakit dan lain sebagainya. Dengan demikian tidak tepat untuk mengatakan sesuatu menjadi kebenaran hanya karena banyak orang yang mendukungnya.
Selain itu kenyataannya orang biasanya dipandu oleh kepentingan pribadinya (baca: ego) dalam memilih. Mereka memilih partai atau orang yang diharap akan paling menguntungkan mereka. Para elit partai itu barangkali juga sadar betul bahwa keuntungan yang mereka akan terima biayanya akan ditanggung oleh semua orang. Apakah ini adil atau merupakan sesuatu yang diinginkan?
Inilah risiko mekanisme pemilihan yang benama demokrasi, bahwa kehendak mayoritas bisa jadi lebih penting dari pertimbangan kebenaran. Kuantitas mengalahkan kualitas ; banyaknya jumlah orang yang menginginkan sesuatu mengesampingkan pertimbangan hati nurani dan akal dalam.
Menarik untuk mengamati bagaimanapun angin yang sedang berhembus di tanah air adalah seperti yang sekarang sedang terjadi. Memprihatinkan tapi insya Allah saya terima demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi saya persatuan bangsa itu lebih penting saat ini. Bukan berarti membenarkan perkembangan yang ada. Kita bekerja di bidangnya masing-masing dengan sebaik-baiknya. Buat saya itu berarti kembali menyusui bayi saya yang berusia 3 bulan, menjemput kakaknya yang berusia dua tahun di kinderopvang (playgroup) dan bersiap belanja untuk membuatkan masakan enak bagi suami tercinta 
Salam Indonesia Bersatu dan Berdaulat dari Amsterdam

No comments:

Post a Comment