Monday, July 11, 2016

Biarkan Anak Kita Menjadi Dirinya Sendiri

Tekanan sosial itu sudah mulai dirasakan sejak sang janin berada di dalam kandungan. Harapan akan berat badan tertentu, jenis kelamin tertentu sudah mulai dikalungkan di pundaknya. Pun ketika sang bayi lahir seribu satu pertanyaan sudah menantinya seiring dengan pertumbuhan raganya: "sudah bisa merangkak belum?" "sudah bisa bicara apa?". Kemudian menginjak masa sekolah "Sekolah dimana?" "Berapa nilai ujiannya?" Memasuki perguruan tinggi ditanya "Kuliah dimana? Jurusan apa?" Saat terjun ke masyarakat pertanyaan yang sering dilontarkan "Kerja dimana? Bagian apa? Posisi apa? (kalau perlu) gajinya berapa?" Dan tak lama kemudian here comes the one million dollar question, "sudah punya pasangan? sudah menikah?" Dan tentu itu tidak berhenti di sana: "kapan punya momongan" and the cycle continues.

Suka atau tidak suka kita berada dalam samudera besar bernama dunia yang setiap tetes airnya memiliki menekan setiap pori-pori tubuh kita. Demikianlah jiwa kita yang terlahir fitrah bertumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan untaian harapan-harapan dari orang sekitar: dari orang tua, saudara, masyarakat dan tak terlepas harapan diri yang secara tidak sadar terbawa pola di lingkungan mana ia dibesarkan.

Masyarakat cenderung membuat kotak-kotak, laki-perempuan; pandai-bodoh atau kurang pandai; cantik-kurang cantik dst yang sebenarnya mekanisme otomatis trilyunan jalinan sel saraf yang membentuk sistem saraf pusat manusia. Akan tetapi ketika perbedaan itu disusupi dengan muatan tertentu: seolah-olah jika anak perempuan lebih kurang mantap dibanding laki-laki; sepertinya kalau kurang cantik menjadi kurang keren; seakan-akan kalau kurang pintar dalam akademik maka jadi orang yang gagal. Nah di situ letak bahaya penghakiman massal yang terselubung, it's almost like social bullying.

So what kalau anak kita terlambat bicara, tidak bisa bicara sefasih anak tetangga, nilainya tidak sebagus anak si anu, and so on and so forth. Tentu kewajiban orang tua untuk membimbing dan memberikan pendidikan terbaik bagi anak. Akan orang tua harus menyadari bahwa setiap anak terlahir dengan bakat langit masing-masing, suatu kemampuan yang khas yang terhubung kepada Allah Ta'ala, inilah salah satu aspek fitrah insan.

Saya percaya setiap anak, and i mean it, SETIAP ANAK adalah jenius di bidangnya masing-masing. Jadi pada hakikatnya tidak ada anak yang bodoh, hanya belum menemukan bakat langitnya saja. Masalahnya dunia pendidikan saat ini menyamaratakan sistem penilaian, seperti karikatur di bawah dimana ujiannya disamaratakan. Itu seperti halnya menguji semua binatang dalam hutan berlomba memanjat pohon yang pasti akan dimenangkan oleh golongan kera. Lalu apakah sang gajah, sang burung, sang ikan makhluk yang bodoh? Ndak sama sekali, mereka punya keahliannya masing-masing yang justru tidak dimiliki sang kera.

Begitu pun anak kita, sejatinya ada yang jenius ototnya sehingga jadi olahragawan yang unggul, ada yang tajam rasa musiknya sehingga bisa jadi pemain musik yang menginspirasi atau ada yang pintar berbicara sehingga mahir di dunia marketing dan komunikasi. Salah satu aspek keberhasilan orang tua adalah ketika bisa membantu anak mengidentifikasi bakat langitnya dengan menjadi pengamat yang cermat dan kemudian memberikan stimulus yang tepat yang akan membuncahkan potensi alamnya.

Akhir kata, anak kita bukan milik kita, ia milik yang menciptakannya dan ia memiliki dunianya sendiri. Biarkan dia menjadi dirinya apa adanya, bukan dipaksakan bertumbuh dalam bayang-bayang kita atau lingkungannya demi hanya mengejar prestise di mata orang banyak dengan mengorbankan kebahagiaannya yang hakiki.

No comments:

Post a Comment