Monday, July 18, 2016

Michael Buble - BeeGees & Pharell Williams

Dalam enam tahun terakhir saya diperjalankan dalam episode "Michael Buble", "BeeGees" kemudian "Pharell Williams".
Pada awalnya saya merasa "im in control of my life" ‪#‎singing‬ i've got the world on a string.
Life was like a walk in a park, damai, rejeki lancar mengalir, terbilang cukup sukses versi pakem kebanyakan orang.
Hingga saya mulai dicemplungkan dalam dunia pernikahan, dua tahun pertama bagaikan naik roller coaster, komunikasi di antara kami belum lancar, tidak punya pekerjaan dan income sendiri, harus mengurus anak-anak tanpa pembantu dan jauh dari keluarga. That was an episode of annihilation for me. Dihancur leburkan ego saya. #singing how can you mend a broken heart.
Hari demi hari dan malam demi malam saya terus berjalan menerjang semua kelelahan lahir dan batin, menangkis semua kepenatan setelah mengurus anak dan rumah tangga seharian penuh, rasanya perjalanan suluk saya selama 12 tahun seakan dipersiapkan untuk menghadapi episode ini. Tidak jarang dalam sujud saya menitikkan air mata, lelah, sedih dan kebingungan seakan menyelubungi akal sehat saya dan membuat dada sesak. Ada rasa marah, sedih, putus asa bergejolak di dalam hati; namun saya juga masih merasakan ada kualitas cinta, pemaafan, kasih sayang dan asa yang berpijar di lubuk yang terdalam. Hingga akhirnya lisan saya berkata lirih "I give up Lord, i give up my life, my expectations, my dreams my all to You completely. Silakan lakukan apapun yang Engkau ingin lakukan terhadap hamba dan kehidupan hamba. Karena aku adalah milik-Mu semata, bukan milik mimpi dan keinginanku apalagi egoku.
Tak lama setelah itu saya mulai merasakan denyut kehidupan mulai mengalir di dalam jiwa. Disusul oleh pancaran kekuatan spiritual yang luar biasa yang berasal dari dalam diri. Kiranya Dia membalas ijab qabul saya saat itu juga. Ya, Dia yang berlari ketika hamba-Nya berjalan mendekat. Dia yang tidak pernah sekali pun memalingkan wajah bahkan saat si hamba tersibukkan oleh ilusinya sendiri.
Sejak malam itu dada saya dibuat menjadi lapang dalam menerima kehidupan. Tadinya saya sangat terobsesi dengan melakukan banyak hal baik dalam pencapaian duniawi atau spiritual. Sekarang saya mulai perlahan berjalan, less doing and start being, accepting all things as they are. Efeknya? Saya jadi ibu yang lebih sabar dan menghadapkan diri lebih baik kepada anak-anak. Suami saya bilang komunikasi kita menjadi lebih baik dan pernikahan kita comes to another level. Inspirasi datang mengalir dan direstui oleh mursyid sebagai amal sholeh yang saya sangat syukuri.
Jadi siapapun yang sedang dirundung dalam kesedihan, kesulitan hidup, kegalauan hati yang kadang membuat kita berteri "kapan kiranya pertolongan Allah tiba?" Just hang in there. Semua akan reda jika ia telah memenuhi kadarnya dengan pertolongan Allah Ta'ala. This too shall pass.
Kita nikmati dan hayati setiap tamu Tuhan yang dihadirkan, baik secara fisik atau yang halus di dalam hati. #singing "because i'm happy..."
- Disampaikan pada Sufi Summer School 2016, Katwijk. The Netherlands.

No comments:

Post a Comment