Monday, May 2, 2016

Bagaimana Mendengar Kata Hati

"Dengarkan kata hati..." demikian orang tua saya selalu berpesan manakala saya harus menjatuhkan pilihan. Mulai dari pemilihan jurusan di perguruan tinggi, memilih tempat bekerja hingga menentukan menerima pinangan yang mana wink emoticon
Tampaknya arahan dari orang tua untuk mengikuti kata hati nurani adalah petuah yang bijak, demikian pun yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam katakan kepada Wabishoh - salah seorang sahabat “Wahai Wabishoh, bertanyalah kepada hatimu (qalb), bertanyalah kepada jiwamu- Nabi katakan sebanyak tiga kali-. Kebaikan adalah apa yang hati merasa tenteram melakukannya. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan” (HR Ahmad no 18035)
Namun tidak mudah untuk menangkap apa yang hati nurani kita katakan, seringkali dalam upaya mendengarkan hati kita sebenarnya malah mendengarkan suara hawa nafsu, syahwat, dan pikiran yang kerap kali lebih lantang. Maka untuk benar-benar mendengarkan bisikan Tuhan yang ditiupkan melalui hati diperlukan keberanian untuk melepaskan diri dari semua suara dalam diri, dari semua angan-angan masa depan, dari ketakutan masa kini, dari kebencian masa lalu, dari bermacam paradigma, dari kungkungan "apa kata orang", karena bertanya kepada hati bukan perkara mengendalikan kehidupan justru kita harus berani melepas semua jubah pemikiran, perisai rencana dan sekian banyak pertahanan pribadi untuk berserah diri kepada bisikan agung yang Sang Maha Kuasa hembuskan ke dalam hati. Tampaknya untuk benar-benar bertanya ke dalam hati kita harus siap untuk mati dari segala kendali diri sendiri...

No comments:

Post a Comment