Friday, June 3, 2016

Di salah satu sesi pengajian ibu-ibu Amsterdam kemarin ada pertanyaan mengenai “Mengapa perempuan diwajibkan menutup auratnya sedemikian ketat melebihi kaum laki-laki?” diskusi pun berlangsung hangat ada yang membahas dari aspek fisik, logis dan etis. Memang bagi kami yang saat ini tinggal di negara dengan mayoritas populasi non Muslim pertanyaan serupa akan selalu muncul. Misalnya berkaitan dengan memasuki Ramadhan, timbul lagi pertanyaan “Mengapa perempuan yang haid tidak boleh puasa?” dst. Perlu kesabaran khusus untuk melayani satu per satu pertanyaan yang bisa jadi terkesan “ngeyel”itu ;)

Berdiskusi tentang gender dalam parameter Islam itu tidak sesimpel bicara tentang dua makhluk yang berbeda jenis kelaminnya, pembicaraan tentang gender tidak semata-mata pula bicara masalah aspek  hukum yang sederhana, pendekatan sosiologis, ataupun berbagai keberatan yang banyak dilontarkan oleh masyarakat Barat. Pembahasan mengenai gender sepatutnya melihat lebih dalam dalam ranah tradisi kosmologis intelektual dalam Islam yang serius membedah aspek maskulin-feminin dalam cermin yang lebih besar seperti makrokosmos (al alam al kabir) dan mikrokosmos (al alam al saghir).

Dengan kata lain berbicara tentang gender juga sepatutnya menyentuh hal-hal mendasar dalam tradisi Islam seperti kajian tentang : Siapa itu manusia? Apa entitas yang membentuk manusia? Setelah hal dasar itu ditelaah maka kita bisa lanjut dengan aspek fisik bahwa ada dua macam makhluk, perempuan dan laki-laki kemudian apa hubunganya satu sama lain, apa fungsi masing-masing. Untuk pembahasan lebih jauh bisa dibaca dari buku apik yang ditulis oleh Sachiko Murata berjudul The Tao of Islam.

Kalau kita melihat Al Qur’an maka pembahasan mengenai laki-laki dan perempuan termuat dalam salah satu ayat “Dan kami menciptakan segala sesuatu berpasangan, laki-laki dan perempuan”(QS 53:45). Tidak sedikit ayat di dalam Al Qur’an yang berbicara mengenai konsep keberpasangan ini. Termasuk pasangan pena dan kitab, langit dan bumi dst. Hal ini menunjukkan bahwa konsep keberpasangan merupakan hal yang fundamental dalam prinsip penciptaan.

Kalau kita menelaah Al Qur’an dan hadits dengan dalam maka tampak bahwa pandangan dasar Islam terhadap aspek perempuan dan laki-laki menampilkan sebuah fungsi komplementer, yang satu melengkapi lainnya. Yang satu tidak sempurna tanpa kehadiran lainnya. Dengan demikian tidak ada hierarki, semua sesederhana menjalankan peran masing-masing yang telah ditetapkan oleh-Nya.
Untuk menambah khazanah lain tentang “keperempuanan”mari kita lihat bahwa kata “nafs” atau jiwa dalam Bahasa Arab adalah bergender perempuan. Adapun jiwa adalah entitas manusia yang utama yang kerap kali tidak mendapatkan ruangan cukup dalam berbagai diskursus dalam kajian agama Islam, melainkan hanya bersifat superfisial.

Kemudian menarik untuk melihat bahwa kata “rahim” mempunyai akar kata yang sama dengan “rahman”. Pada kenyataannya rahim sang ibu adalah tempat dimana Tuhan memancarkan kasih sayangnya dengan pertumbuhan yang menakjubkan dari anak manusia.

Lalu Allah Ta’ala dikatakan memiliki sifat “Jalal” (kuat) sifat yang banyak terpancar di kaum laki-laki dan juga sifat “Jamal”(pengasih, penuh kelembutan) sifat yang banyak terpancar pada kaum perempuan.

Maka kita bisa lihat sekilas bahwa bicara tentang gender perempuan tidak hanya sebatas “perempuan”sebagai makhluk berjenis seksual yang berbeda dengan laki-laki saja.
Sebagai penutup, dalam sejarah Islam sebenarnya banyak cerita-cerita kepahlawanan yang sangat menginspirasi yang dilakoni oleh perempuan, hal yang jarang diungkap terutama oleh mereka yang hanya melihat aspek (seolah-olah) perempuan tidak mendapatkan perlakuan yang adil dalam Islam. 

Orang yang pertama syahid dalam Islam adalah seorang perempuan bernama Sumaya Zawgat Yasir. Sumaya dihukum dengan keji - saya tidak tega menceritakan dengan detil – di periode awal perkembangan Islam, beliau gugur sebagai syuhada dalam mempertahankan keimanannya.
Rasulullah SAW memuji Asma binti Umais yang berkelana jauh melintas laut dari Mekkah ke Abyssinia untuk menghindari pembantaian kaum Muslim.

Perempuan juga terjun ke medan perang laiknya laki-laki. Adalah seorang ksatria perempuan bernama Ummu Imara yang ikut dalam Perang Uhud. Mengenai beliau Umar bin Khattab pernah berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW berkata ‘pada saat perang Uhud, tidaklah saya berpaling ke kiri atau ke kanan tanpa melihat Ummu Imara berperang melindungi aku.”[]

(Referensi: Pendahuluan yang ditulis oleh Dr. Zeenat Shaukat Ali dalam buku “Islam and Gender Justice: Questions at the Interface”karya V.A. Mohamad Ashrof)


No comments:

Post a Comment